Friday, March 23, 2007

HOME SWEET HOME (part 4)

23 Maret 2007 ini menjadi salah satu hari bersejarah dalam proses pembangunan rumah karena hari itu terjadi penandatanganan perjanjian jual beli rumah di depan notaris, antara developer PT Gerbang Madani Group (selaku penjual) dengan Mama Siwi dan Papa Sulis (selaku pembeli) rumah. Oya, notarisnya bernama Tri Agus Heryono, S.H. yaitu notaris yang sudah ditunjuk oleh Bank Niaga. Biaya proses balik nama dan Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) lumayan besar juga lhoo, sampai Rp 7.000.000,00.

Pada hari yang sama, Mama Siwi dan Papa Sulis juga menandatangani perjanjian akad kredit untuk KPR dengan Bank Niaga terhitung sejak 23 Maret 2007 sampai 23 Maret 2022 atau KPR selama 15 tahun. Untuk urusan akad kredit ini juga tidak murah lho biayanya, yaitu Rp 8.281.000,00, antara lain untuk biaya administrasi, provisi, notaris, pengikatan, asuransi jiwa dan asuransi kebakaran.

Hari itu menandai mulainya hidup prihatin buat Mama Siwi dan Papa Sulis, karena mulai harus menyisihkan uang untuk melunasi KPR itu selama 15 tahun, sementara kebutuhan perut khan tidak bisa ditunda. Belum lagi untuk melunasi “soft loan” untuk uang muka rumah ya, hehehe, show must go on deh … Yang penting bisa punya rumah.

HIDUP
Hidup adalah sebuah tantangan, hadapilah.
Hidup adalah sebuah anugerah, terimalah.
Hidup adalah sebuah petualangan, berjuanglah.
Hidup adalah sebuah duka cita, tanggulangilah.
Hidup adalah sebuah tragedi, tuntaskanlah.
Hidup adalah sebuah tugas, laksanakanlah.
Hidup adalah sebuah permainan, mainkanlah.
Hidup adalah sebuah misteri, singkapkanlah.
Hidup adalah sebuah lagu, nyanyikanlah.
Hidup adalah sebuah kesempatan, ambillah.
Hidup adalah sebuah perjalanan, jalanilah.
Hidup adalah sebuah janji, penuhilah.
Hidup adalah sebuah kasih sayang, bergembiralah.
Hidup adalah sebuah keindahan, bersyukurlah.
Hidup adalah sebuah perjuangan, bertarunglah.
Hidup adalah sebuah jiwa, sadarilah.
Hidup adalah sebuah teka-teki, pecahkanlah.
Hidup adalah sebuah cita-cita, capailah.
(Bhagawad Gita)

Tuesday, March 06, 2007

Kenangan Anin Saat Opname di RS Panti Rapih Maret 2007 Lalu

Siapa orangnya yang menyangka kalo batuk buat anak kecil tidak sesederhana seperti buat orang dewasa. Habis bagaimana, semuanya berawal dari batuknya Anin diiringi demam setiap malam sejak 25 Februari 2007 lalu. Anehnya kalo malam tiba, demam menjadi-jadi sampai lebih dari 39 derajat Celcius, mana Anin selalu mengeluh perutnya sakit. Ibu mana yang tidak panik, menjaga anak semalaman, menjaga jangan sampai Anin stuip lagi karena over heated suhu badannya.

Senin siang Mama Siwi nyerah, dibawalah Anin periksa ke dokter idolanya Dr. Tintin, diberi obat, beres. Eh, malamnya begitu lagi, juga hari Selasa malam, padahal Rabu pagi sampai siang keluarga kami ada acara naikin mullo di rumah Deresan.

Akhirnya Rabu siang, Mama Siwi dan Papa Sulis bawa Anin ke Dr. Tintin lagi, langsung periksa darah. Terus terang kami takut kalo demam berdarah, mengingat di mana-mana sedang musim demam berdarah. Ternyata hasil cek darahnya bagus semua, so tidak ada masalah. Pulanglah kami ke rumah.

Malam harinya, Anin kambuh lagi, batuk, demam, perut sakit, segala obat sudah kami coba. Dari obat turun panas (tempra), obat sakit perut (plantacid pemberian dokternya), kompres air dan kompres bye-bye fever, sampai sudah siap-siap obat anti kejang yang dimasukkin dubur. Mama Siwi jelas tidak bisa tidur, karena musti menjaga Anin, capek sekali, apalagi Mama Siwi sudah hamil 7 bulan. Saking bingungnya Mama Siwi sempat sms Dr. Tintin jam 1 malem, jelas aja nggak bakalan dibalas ya, namanya juga jam tidur manusia :)

Pagi-pagi, Dr. Tintin ngasih jawaban via sms, nanyain gimana Anin. Ya sudah, kami putuskan untuk opname saja, sekedar untuk observasi, lagian di RS peralatan lebih lengkap, jadi perasaan lebih tenang. Kamis siang jadilah Anin mulai opname di RS Panti Rapih, sebelum masuk kamar harus menjalani cek darah dan foto paru-paru (torax) dan perut (abdomen) terlebih dahulu, untuk mendeteksi apa yang nggak beres di paru-paru dan perutnya. Berhubung Mama Siwi sedang hamil dan Anin masih terlalu kecil alias takut, maka yang menemani di kamar rontgen adalah Papa Sulis, itupun harus pakai pakaian pelindung dari sinar laser.

Sayang seribu sayang, Anin tidak dapat kamar, jadilah di kamar klas II, memang nih yang namanya RS Panti Rapih selalu penuh, sulit dapat kamar klas I atau di atasnya yang lebih baik. Kasihan Anin, malam pertama di RS masih demam tinggi, sampai dimasukkin obat turun panas via dubur 2 kali sepanjang malam, mana kamar tidak pakai AC jadi Anin resah terus karena kepanasan, celakanya lagi, bed tempat tidur ukuran anak kecil, jadilah Mama Siwi nemani tidur tapi kaki 'ongkang-ongkang' keluar dari box.
Hari kedua di RS Anin bisa pindah ke kamar klas Utama (1 klas di atas klas I), mahal juga sih, Rp 450.000,00 per hari, jauh sekali jika dibandingkan dengan klas II yang Rp 180.000,00. Tapi nggak apa-apa deh, yang penting bisa untuk istirahat buat Anin yang sakit, Mama Siwi yang hamil, dan Papa Sulis yang musti hilir mudik ambil macem-macem. Jadilah Mama Siwi dan Papa Sulis bolos kantor berhari-hari.

Hasil cek darah dan foto-foto rontgen semuanya baik. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Dugaan dokter, Anin itu batuk, tapi dahaknya tidak bisa keluar, malahan nyasar ke paru-paru, tapi tidak berbahaya, hanya bikin perutnya sakit dan menimbulkan demam. Akhirnya Anin diberi obat pelega pernafasan yang musti dipasang dengan nebulizer 3 kali sehari, jam 10.00, jam 16.00, dan jam 00.00. Wah, soal yang satu ini, perlu tenaga banyak orang yang megangi. Dasar anak-anak, takutnya bukan main, nangis dan nendang-nendang gitu, sampai suster perawat, Mama Siwi, dan Papa Sulis kewalahan meganginya. Tapi itu tidak berlangsung lama, akhirnya pada hari ke-3 nebulizer Anin sudah tidak takut lagi, meski juga harus ditemani mama atau papa.
Akhirnya pada hari ke-empat opname Anin boleh pulang, tapi habisnya Rp 4.600.000,00. Ya ampun banyak sekali ya, hanya gara-gara batuk. Ihik3x, tapi nggak apa-apa deh, asal Anin sehat. Lagian Mama Siwi dan Papa Sulis masih bersyukur kok, karena biaya opname Anin bisa dicover oleh kantor mama dan papa, jadi tidak tombok, selain biaya operasional ketika nungguin Anin di RS. Mbak Anin, ini sakit yang terakhir ya, Mbak Anin harus sehat, khan sebentar lagi mau punya adik, jadi Mbak Anin harus bisa njagain adiknya. Jangan hobby tidur di RS deh ....

Daisypath Ticker