Thursday, May 24, 2007

Pupak Puser‭ Tapi Masih Basah

Kemarin 23 Mei 2007 puser Adid sudah pupak, meski sisanya masih belum kering betul, tapi pusernya sudah lepas dari perut. Nah, hari ini ada bancakan pupak puser. Eyang Mardjo Putri bikin dus-dusan untuk dibagi-bagikan ke tetangga. Isi dusnya lumayan lengkap karena berisi nasi lengkap dengan lauknya. à foto dus2an bancakan
Oya, bersamaan dengan acara bancakan itu, Adid musti dibawa ke dokter karena batuk pilek lumayan parah, sampai rewel tidak bisa tidur karena susah bernafas. Oleh dokter Tintin, Adid terpaksa diberi obat antibiotik karena diobati Ryvel tidak kunjung sembuh. Semoga deh bisa segera sembuh, sebab kalo tidak membaik musti diuapin pakai nebulizer kayak Mbak Anin dulu.

Monday, May 21, 2007

Dik Putri dan Dik Laras

Dik Putri dan Dik Laras ini sepupu-sepupu Mbak Anin dan Mas Adid (begitu seharusnya mereka memanggil mbak dan mas sepupunya). Mereka berdua itu anak-anak dari Tante Ari dan Oom Bimo, mereka semua tinggal di Bekasi alias Jakarta coret atau Jakarta kemringet, saking jauhnya dari Jakarta. Tante Ari ini adalah adik kandung Mama Siwi, memang Mama Siwi itu sulung dari 2 bersaudara, perempuan semua.
Dik Putri dan Dik Laras ini kelahiran Jakarta, karena kedua orang tuanya kerja di Jakarta. Jadi kalo pergi ke Yogya, mereka namanya mudik, hehehe, seperti kalo lebaran itu loo. Konon Dik Putri dan Dik Laras ini ”kesundulan” alias jarak usianya cuman 1,5 tahun. Iya, jadi Tante Ari punya anak 2 dalam waktu 1,5 tahun, padahal denger-denger Tante Ari masih ngasih ASI. Wah, ngebut bener ya. Sedikit berbeda dengan Mbak Anin dan Dik Adid yang jarak usianya 3,5 tahun. Wah, nggak bisa ngebayangin deh, bagaimana sibling sindrome terjadi antara Dik Putri dan Dik Laras, berhubung jarak usia mereka deket sekali.

Ngumbar Anak-Anak

Wah, seperti playgroup layaknya. Perjalanan dilakukan hari Sabtu, 19 Mei 2007, 1 mobil isinya penuh sekali, ada Papa Sulis, ada Mama Siwi, ada Mbak Anin, ada Eyang Mardjo Kakung, ada Tante Ari, ada Oom Bimo, ada Dik Putri, dan ada pula Dik Laras. Perjalanan dimulai dari rumah Baciro ke rumah baru Deresan. Ini pertama kali Keluarga Hartanto lihat rumah baru Keluarga Sulistyanto. Maklumlah, memang rumah itu baru dibangun 7 bulan yang lalu, sementara Keluarga Hartanto termasuk jarang pergi ke Yogya. Komentar Tante Ari, rumahnya bagus. Iya sih, Tante, tapi kecil sekali ya.Setelah dari lihat rumah baru, perjalanan menuju rumah makan Batak “Bang Ucok” di daerah Condong Catur. Nah yang ini rumah makan favoritnya Oom Bimo sih. Di sana kami makan makanan haram, karena makanan yang dijual itu berbahan dasar babi. Berhubung itu rumah makan Batak, maka semua masakannya juga disajikan dengan cita rasa Batak. Jelas beda lah yaoww dengan cita rasa Yogya yang dominan manis.
Perjalanan berakhir di Musium Angkatan Udara di kawasan Angkatan Udara Adisucipto. Di sana, anak-anak senang sekali melihat begitu banyak pesawat terbang dipajang. Kayaknya Papa Sulis juga baru pertama kalinya pergi ke tempat itu. Terlihat Papa begitu semangat melihat setiap benda yang dipamerkan, waktu ditanya, Papa Sulis bilang, memang Papa Sulis senang lihat benda-benda di musium. Oooo, Mama baru tau …

Kejutan dari Keluarga Hartanto

Ini baru namanya surprise beneran. Suatu siang, tepatnya 17 Mei 2007 Tante Ari, Oom Bimo, Dik Putri, dan Dik Laras datang ke Yogya. Konon mereka sudah datang tadi pagi, bersama-sama naik bis dari Cikarang. Katanya mau nganter alat perah ASI (breast pump MEDELA) buat Mama Siwi. Hehehe, padahal baru tadi pagi, Tante Ari kirim sms kalau biaya kirim breast pump-nya mahal karena harus dikirim buru-buru, berhubung Mama Siwi butuh cepat, juga harus diasuransikan karena barang mahal. Ada-ada saja Tante Ari ini. Ternyata barangnya dibawa sendiri ke Yogya. Wah, terima kasih Tante. Selama beberapa hari, rumah Baciro jadi ramai sekali, ada 4 anak-anak, Mbak Anin dan Dik Adid, juga Dik Putri dan Dik Laras. Pokoknya meriah sekali. Nangis satu bisa nangis semua. Emang sih, kalo anak-anak masih kecil tuh, repot bener orang tuanya.
Oya, ngomongin soal alat peras ASI, ceritanya begini nih. Mama Siwi ternyata punya masalah teknis dengan puting payudara untuk menyusui. Dulu sekali, waktu Mbak Anin masih kecil, Mama Siwi sampai tidak berhasil memberikan ASI buat Mbak Anin, maka jadilah Mbak Anin itu anak sapi (alias anak yang minum susu sapi, bukan susu ibu). Kasihan ya Mbak Anin. Nah, menjelang kelahiran Dik Adid, Mama Siwi sudah berusaha mempersiapkan pemberian ASI itu, apa daya, ternyata tidak mudah untuk mewujudkan semua itu. Akhirnya, dengan saran Tante Ari, Mama Siwi terpaksa memeras ASI dengan alat peras ASI, mereknya MEDELA buatan Switzerland. Lihat deh sendiri, kayak apa model barangnya di www.medela.com. Alat ini lumayan mahal harganya, hampir 1 juta rupiah. Tapi Mama Siwi dikasih pinjam oleh Tante Ari. Terima kasih lagi ya Tante ....
Pada hari-hari pertama setiap kali memeras ASI baru bisa dapat 50 ml. Pesan Tante Ari, yang penting relax, tenang, tidak boleh kemrungsung, dan tidak boleh pasang target jumlah ASI yang akan diperas. Ok deh, Tante ...

Tuesday, May 15, 2007

Ini Aku, Adiknya Mbak Anin

Perkenalkan, untuk semua pembaca blog ini, namaku DIONISIUS ADYATMA PUTRA PERMANA, begitulah Mama Siwi memberiku nama. Nama yang keren, sekeren wajahku loo, hahaha. Denger-denger namaku dan nama Mbak Anin memang semua Mama Siwi yang persiapkan, wah dalam urusan yang satu ini kayaknya Papa Sulis nggak diberi kesempatan deh, habisnya Papa Sulis kalau memberi usulan nama selalu tidak ok buat Mama Siwi. Masak dulu Papa Sulis mau memberi nama Subagyo kalau lahir anak laki-laki. Waduh, nama yang jauh dari zamannya.

Oya, Adyatma itu berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya anugerah hidup, sedangkan Permana dari bahasa Kawi yang berarti mengetahui dengan jelas. Jadi kira-kira makna namaku adalah anak laki-laki anugerah hidup yang mampu mengetahui banyak hal dengan jelas. Harapan Mama Siwi dan Papa Sulis, nanti aku jadi anak yang haus akan pengetahuan. Wowww, kalau gitu aku diharapkan jadi profesor dong


Nama baptisku adalah Dionisius, konon di buku Orang-Orang Kudus yang dibaca Mama Siwi. Dionisius adalah seorang martir, kebetulan pernah bertugas di Asia, malahan tepatnya di Aceh. Dia adalah seorang pejuang hebat dalam membela imannya kepada Kristus Yesus.

Monday, May 14, 2007

Ari-Ari dan Bancakan Brokohan

Setelah Mama Siwi bisa ditinggal di kamar rawat inap, Papa Sulis pulang ke rumah dengan membawa pulang ari-ari (placenta) untuk dikuburkan di halaman depan rumah. Oya, sebagaimana adat Jawa yang kami anut, hari itu juga Eyang Mardjo Putri membagikan brokohan ke tetangga kiri kanan, isinya ada kelapa separuh, beras, telur mentah, kembang setaman, yang intinya ‘woro-woro’ kelahiran anggota keluarga baru.

Detik-Detik Menegangkan Kelahiran Si Kecil

Akhirnya setelah menunggu kelahiran si adik kecil, tibalah saat yang sangat mendebarkan, tepatnya Senin 14 Mei 2007, 3 hari lebih lama dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang diprediksi oleh dokter. Semuanya berawal dari Mama Siwi yang makan kekenyangan pada hari Minggu 13 Mei 2007 malam. Alhasil, Mama Siwi berkali-kali ke ‘belakang’ dan baru berhasil Buang Air Besar (BAB) pada pukul 03.30 WIB alias Senin dini hari.Ternyata rasa mules tidak kunjung hilang juga, berarti ini adalah tanda-tanda persalinan. Sejak pukul 04.00WIB, rasa mules atau kontraksi terjadi berkali-kali, tapi anehnya Mama Siwi tidak kunjung mengeluarkan darah seperti yang terjadi pada waktu kelahiran Mbak Anin dulu. Saat itu Papa Sulis sudah menawari untuk berangkat ke RS segera, tapi Mama Siwi belum mau karena menurut perasaan Mama Siwi, kira-kira pukul 10.00 baru melahirkan. Lagian kelamaan di RS tidak nyaman, apalagi kalau saat bersamaan ada ibu-ibu lain yang juga akan melahirkan, rasanya jadi tambah stres.

Ternyata perkiraan itu meleset 180 derajat, karena tepat pukul 06.00WIB pada saat mandi pagi Mama Siwi sudah mengeluarkan darah banyak sekali,diikuti dengan keluarnya/pecahnya air ketuban di teras rumah pukul 06.40 WIB. Baru deh, Mama Siwi panik melihat air ketuban sudah keluar seperti itu, maka buru-buru Mama Siwi dan Papa Sulis berangkat ke RS Panti Rapih. Di jalan, sudah nggak bisa mikir apa-apa, selain hanya bisa mendaraskan doa Bapa Kami dan Salam Maria (habisnya sudah tidak bisa konsentrasi, saking sakitnya) mohon keselamatan buat Mama Siwi dan si kecil. Saat itu air ketuban sudah mengalir deras di jok mobil. Masih segar di ingatan Mama Siwi, ketika itu Papa Sulis menerobos palang kereta api di bawah jalan layang Lempuyangan yang sudah mulai menutup, ngeri deh kalau ingat peristiwa itu.

Sesampai RS Panti Rapih, Mama Siwi langsung dibawa petugas UGD ke kamar persalinan di Gedung Carolus Boromeus. Tak lama kemudian, Papa Sulis menyusul dengan membawa tas pakaian Mama Siwi, berikut handycamp. Berhubung berkas status belum ada, maka Papa Sulis diminta suster/perawat untuk mengurus berkas itu di pendaftaran poliklinik.

Ternyata Tuhan berkenan membuat proses persalinan sangat lancar. Ketika Papa Sulis pergi mengurus berkas status, ternyata suster melihat ‘pembukaan’ Mama Siwi sudah lengkap, malahan rambut bayi sudah kelihatan, berarti tidak mungkin lagi memanggil dokter Amino. Apa boleh buat, akhirnya persalinan dibantu oleh seorang bidan, namanya Bidan Siswanti. Orangnya sabar bener, jadi Mama Siwi tidak merasa cemas dan bisa mempercayai orang ini, sekalipun persalinan tidak dibantu atau diawasi seorang dokter.

Nama Tuhan memang patut dimuliakan, keajaiban terjadi, dalam 1 kali mengejan, si kecil pun lahir. Puji Tuhan, telah lahir seorang bayi laki-laki yang sehat dengan berat lahir 3,325 kg dan panjang 51cm. Thanks God !!! Memang sudah ditakdirkan juga oleh Yang Di Atas, bahwa bayi kecil ini lahir tanpa ditungguin siapa pun, tidak terkecuali papanya sendiri, memang ‘si anak pemberani’, beda sekali dengan Mbak Anin yang waktu itu ditungguin banyak orang, papanya dan eyang-eyangnya.

Rasanya masih sulit dipercaya, bayi kecil ini lahir tepat pukul 07.05 WIB, hanya 3 jam dari saat pertama kali Mama Siwi merasakan mules-mules alias kontraksi. Luar biasa cepat, padahal kalau ingat perjuangan melahirkan Mbak Anin dulu memakan waktu 12 jam lamanya mulai dari kontraksi sampai kelahirannya.

Demikian melihat si bayi mungil telah lahir, spontan Mama Siwi menelpon Papa Sulis yang masih ada di pendaftaran poliklinik, rasanya Mama Siwi sudah lupa dengan semua rasa sakit di perut dan di lubang persalinan. Papa Sulis bener-bener tidak percaya kalau si kecil sudah lahir dan yang penting SELAMAT, mengingat air ketubannya sudah pecah di rumah dan hampir saja si kecil lahir di dalam mobil. Menurut cerita Papa Sulis kemudian nih, demikian dapat telpon dari Mama Siwi, Papa Sulis langsung lari-lari balik ke ruang persalinan, sampai hampir nabrak suster-suster yang lagi jalan berombongan, tapi orang-orang tahu kok, kalau Papa Sulis lari-lari sambil kegirangan mendengar anak keduanya telah lahir, buktinya, suster-suster yang hampir ketabrak itu padha senyum-senyum melihat Papa Sulis, hehehee, kayak di film-film saja ya …

Sesampainya Papa Sulis di kamar persalinan, sibuklah Papa Sulis dengan handycamp dan kamera untuk mengabadikan ‘si jagoan kecil pemberani’ itu, sembari sibuk menelpon Eyang Yogya, Mbak Anin, dan Eyang Klaten, juga menulis sms ke orang-orang. Semua orang tidak percaya kalau proses persalinan akan secepat itu. Begitu juga Tante Ari yang menelpon tidak lama setelah Mama Siwi melahirkan. Oya, waktu Mbak Anin denger Mama Siwi sudah melahirkan, spontan dia teriak-teriak di rumah, ngasih tahu semua orang kalau adiknya sudah lahir. Moga-moga Mbak Anin bener-bener siap untuk mempunyai seorang adik.

Masih sulit dipercaya, bahwa pada saat persalinan berlangsung sebenarnya Mama Siwi belum sempat sarapan apapun, selain 1 gelas susu prenagen di rumah tadi. Untungnya proses persalinan lancar dan tanpa membutuhkan tenaga ekstra untuk mengeluarkan si kecil. Setelah proses persalinan selesai, lengkap dengan 6 jahitan dilakukan, pindah ke kamar rawat inap, baru deh Mama Siwi merasa kelaparan luar biasa, hehehe. Jadilah Mama Siwi dan Papa Sulis sarapan pagi bersama di kamar rawat inap Carolus 301, terpaksa pakai kamar klas VIP, berhubung klas I dan klas Utama penuh. Nggak apa-apa deh, hitung-hitung sekalian istirahat, kayak di kamar hotel saja rasanya, saking mahalnya Rp 500.000,00 per hari.

Oya, mau tahu, wajah si adik kecil mirip siapa pada saat lahir. Mirip sekali dengan Mbak Anin, mbaknya. Hehehe, namanya juga adiknya, habis mau mirip siapa ya …

Thursday, May 10, 2007

Suka dan duka silih berganti.Itulah hidup (part 2)

Ternyata cobaan belum mau berakhir sampai di sini. Pagi hari, kira-kira pukul 06.00 WIB Mama Siwi sudah mandi, rapi, untuk ke rumah Dr. Haryatno di Jalan Munggur Demangan. Oya, dokter ini adalah dokter yang mengepalai Klinik Pengobatan Alternatif RSPR sekaligus dokter yang dulu (tahun 2002) pernah menangani Papa Sulis untuk sakit seperti yang sekarang ini. Satu lagi, Mama Siwi sudah kenal betul dengan dokter ini karena Dr. Haryatno adalah juga dokter Mama Siwi kalau pas Mama Siwi kambuh maagnya jauh sebelum pernikahan Mama Siwi dan Papa Sulis berlangsung.

Mama Siwi ke rumahnya, ternyata ’kepancal’, karena pak dokter sudah berangkat ke RSPR untuk praktik. Ya sudah Mama Siwi susul saja, oya, Mama Siwi perginya sendirian, naik motor, karena lebih baik Papa Sulis di rumah untuk istirahat saja. Di tempat parkir RSPR nggak sengaja ketemu Oom Agus (nah yang satu ini adalah mantan pacarnya Tante Ari yang kerja di RS ini). Kata Oom Agus, barusan saja Tante Ari telepon dia, meminta tolong untuk bisa mencarikan kamar buat Papa Sulis. Thanks again ya Tante Ari. Mama Siwi terus minta tolong ditemeni Oom Agus untuk mencari Dr. Haryatno. Ternyata dokter belum datang, kebetulan praktiknya memang pukul 07.30 WIB. Aduhhh, ngebayangin nggak sih, nunggu dokter itu sama dengan mahasiswa nunggu dosennya, yang tidak jelas bakalan datang jam berapa. Mana tadi Mama Siwi belum sempat sarapan, baru minum susu prenagen 1 mug, jadi rasanya lapar betul, apalagi semalaman begadang gitu.

Akhirnya ketemu juga dengan dokter. Kami berdiskusi tentang hasil lab darah Papa Sulis dan obat-obat yang diberikan dokter jaga, juga soal kemungkinan seandainya dirawat sendiri di rumah (rawat jalan) dengan pengobatan alternatif. Selain karena nyari kamar di RSPR susahnya bukan main, juga karena Papa Sulis berat untuk opname karena ingin menemani Mama Siwi melahirkan. Kalau Papa Sulis terpaksa dirawat di RS lain, pasti tidak mungkin menunggui Mama Siwi melahirkan di RSPR. Dari hasil pembicaraan itu, dokter memberi tambahan obat 2 macam dan 2 macam jamu olahan. Jadi semua obat yang harus Papa Sulis telan ada 7 macam. Duuhh, kebayang enggak sih, kalau Papa Sulis harus minum salah satu jamu berupa 1 gelas penuh jamu seduh yang pasti pahit bener. Pokoknya ada obat antibiotik untuk mengobati infeksinya (yang ditandai dengan lekosit yang tinggi), yang jelas obat antibiotik dicari yang tidak menimbulkan efek alergis buat Papa Sulis (biasanya yang mengandung kata cillin-cillin). Ada obat untuk menurunkan kadar enzym SGPT dalam lever yang namanya HP Pro dan jamu seduh yang bernama Tacho (maybe ramuan dari bahan-bahan jamu termasuk temulawak yang mujarab untuk menurunkan kadar SGPT), ada juga jamu dalam 1 kapsul yang berfungsi sebagai antioksidan. Dalam pertemuan dengan dokter itu, Mama Siwi sekaligus minta pengobatan sampai tuntas, dengan meminta pengantar untuk cek darah kembali setelah semua obat itu habis diminum dan meminta jadwal praktik dokter di RSPR.

Sesampai rumah, kira-kira pukul 09.00 WIB ternyata Papa Sulis sudah mulai demam lagi. Mama Siwi lupa tadi, semua obat semalam dari dokter jaga itu Mama Siwi bawa, lupa tidak meninggalkannya 1 biji untuk diminum Papa Sulis. Papa Sulis dibelikan Mama Siwi bubur ayam untuk sarapan, sambil Mama Siwi suapi Papa Sulis harus memakan obat-obatan yang sudah diberikan dokter itu. Perasaan Mama Siwi saat itu sedih campur jengkel, melihat makan Papa Sulis yang susahnya bukan main. Sudah dibelikan susah-susah, tidak dihabiskan lagi. Rasanya lebih mudah memaksa makan anak sekecil Anin, daripada ”anak segedhe” Papa Sulis yang bisanya membantah dan mengeluh. Sebel nggak rasanya?! Memang sih, Mama Siwi paham betul, gimana rasanya mual dan ketakutan muntah itu terjadi pada Papa Sulis. Tapi khan belum terbukti kalau muntah (rasanya sejak kemarin Mama Siwi belum melihat Papa Sulis muntah tuh), kenapa sih harus takut muntah. Toh andaikata muntah pun, itu terjadi di rumah, gampang buat dibersihkan, nggak ketauan orang lain selain orang rumah. Bagaimana mau cepat sembuh kalau makan saja susahnya bukan main. Juga karena dirawat sendiri di rumah, praktis tubuh tidak diinfus untuk segera bisa menetralisir demam Papa Sulis yang 38,7 derajat Celcius lagi. Upaya menurunkan suhu badan ya lewat obat dan kompres. Jadilah Mama Siwi ngompres Papa Sulis lagi.

Siang harinya, pukul 12.00 WIB Mama Siwi ngantar Anin periksa ke Dr. Tintin ditemani Mbak Ana. Untuk alasan penghematan, Mama Siwi beranikan diri untuk tetap bawa mobil. Sejujurnya agak takut juga sih. Tapi bisa menghemat banyak dana daripada naik taksi yang boros. Urusan dengan Dr. Tintin beres. Anin diberi obat puyer yang isinya campuran antara obat batuk, obat pilek, dan obat turun panas. Kayaknya sih ada antibiotiknya karena harus diminum sampai habis.

Oya, hubungan Mama Siwi dengan dokter anak Anin alias Dr. Tintin lumayan deket. Orangnya masih muda, cantik lagi. Dulu sekali Papa Sulis pernah bilang, kalau nganter Anin ke dokter itu semangat, ya minimal yang sembuh sakitnya itu Papanya, maksimalnya sakit Anin yang sembuh. Hehhee. Saking deketnya Mama Siwi dengan Dr. Tintin, kalau ada apa-apa Mama Siwi suka telepon atau sms. Hebatnya sms pun dibalas oleh dokter. Pernah dulu sekali, ketika Anin demam dini hari pukul 02.00 WIB (terang saja bu dokter sudah tidur ya), Mama Siwi kirim sms. Eh, paginya Dr. Tintin duluan yang mengontak Mama Siwi ”Bagaimana Anin?”

Waktu ke dokter anak itu, Mama Siwi sempat cerita soal si kecil yang belum mau lahir, padahal HPLnya tinggal 1 hari lagi. Juga soal sakit Papa Sulis yang nggak dapat kamar di RSPR dan beberapa RS lain rekanan RSPR, yang akhirnya Papa Sulis dirawat sendiri oleh Mama Siwi di rumah dengan obat dari klinik alternatif RSPR. Dokter Tintin hanya geleng-geleng kepala, heran, campur takjub kali ya, melihat apa yang Mama Siwi lakuin.

Seperti bisa dipastikan. Sesampai rumah, kali ini Mama Siwi harus menjumpai Papa Sulis yang mulai demam lagi. Kenapa sih, tubuh itu bandel sekali, sebegitu parahnya infeksi lever terjadi, sampai-sampai suhu nggak mau turun juga. Kalau begini terus, rasanya Mama Siwi tidak bakalan sanggup untuk selalu menemani dan mengompres Papa Sulis deh. Satu-satunya cara ya infus itu. Tapi berarti harus opname. Lalu bagaimana dengan proses persalinan tanpa suami di samping. Wanita atau istri mana sih yang tidak ingin melahirkan dengan didampingi suaminya. Biar ditunggui orang tua dan mertua, bahkan orang sekampung sekalipun, pasti lebih baik kalau ditunggui suami sendiri. Tidak hanya ”kesukaan” pada saat membuatnya saja, tapi ”kedukaan dan penderitaan” pada saat mengeluarkan juga seharusnya bisa dirasakan berdua. Ya meski dalam kenyataan penderitaannya nggak bisa juga dirasakan oleh para suami ya, tapi minimal para suami ikutan cemas dan berempati melihat kalau-kalau istrinya kenapa-kenapa dalam proses persalinan. Bukannya justru ada di tempat lain.

Sejujurnya, Mama Siwi juga tetap ingin ditemani Papa Sulis dalam proses persalinan, ingin Papa Sulis bisa memotret/memvideo anaknya yang masih bersimbah darah, saat dimandikan/dibersihkan pertama kali, saat diberi ASI pertama kali oleh Mama Siwi. Samalah dengan moment-moment yang pernah dialami Mbak Anin. Juga Mama Siwi ingin Papa Sulis yang membawa pulang ari-ari (placenta), lalu menguburkannya di depan rumah. Bukan orang lain!!! Apakah keinginan-keinginan itu adalah keinginan yang tidak realistis?!?! Juga Papa Sulis yang menemani Mama Siwi opname di RS, padahal awalnya Mama Siwi sudah membayangkan akan minta rawat gabung ibu dan bayi, jadi bisa mulai memberikan ASI eksklusif agar kejadian tidak berhasilnya proses laktasi di masa Anin tidak terulang lagi. Bukankah di banyak artikel yang pernah Mama Siwi baca di majalah atau internet, keberhasilan laktasi atau proses pemberian ASI eksklusif dan proses penyembuhan pasca persalinan sangat ditentukan oleh dukungan suami terhadap istrinya?!?! Rasanya akan lain kalau di RS nanti Mama Siwi ditemani oleh eyang-eyang. Biar gimana-gimana rasanya tidak tega dan ”ada sejuta rasa pekewuh” nyuruh-nyuruh atau minta tolong eyang-eyang yang sudah tua-tua dan tidak mobile lagi. Oya, ortu dan mertua Mama Siwi sudah tidak bisa dibilang muda lagi, beda sekali dengan mertua Tante Ari yang masih bisa lari ke sana, lari ke sini. Kok belum apa-apa, Mama Siwi sudah hopeless ya. Bingung pokoknya ...

Kamis sore, di rumah ada eyang kakung dan eyang putri Marno dari Klaten, juga Oom Bambang. Nengok Papa Sulis dan Anin yang sakit. Saat mereka ada di rumah, suhu badan Papa Sulis naik lagi jadi 38,7 derajat Celcius. Tidak henti-hentinya Mama Siwi mengompres dahi, pipi, dan leher Papa Sulis. Perasaan Mama Siwi campur aduk deh waktu itu. Mana Anin masih batuk sampai ”ngikil” gitu. Dalam hati Mama Siwi cuman bisa mendaraskan doa/lagu ini ...

Kadang kala kau tak mampu mengerti , kenyataan hidup yang telah kau alami.
Namun tetaplah tegak berdiri, percaya DIA punya rencana sendiri.
DIAlah Tuhan yang akan membuat segalanya kan indah pada waktunya.
Untuk segala sesuatu ada masanya, Tuhan sendiri yang akan menyelesaikannya.
Serahkanlah saja pada kehendakNYA, Tuhan kan buat indah pada waktunya.

Ternyata pasrah dan berserah kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan ya??? Percaya bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, justru pada saat segala sesuatu tampak suram dan tiada harapan sama sekali???

Mungkin Tuhan mendengar darasan doa Mama Siwi. Ajaib. Malam ini Anin sudah bisa tidur pukul 21.00 WIB dan tidurnya tenang betul, tanpa batuk-batuk seperti malam sebelumnya. Demikian juga Papa Sulis sudah mulai berkeringat dan suhu badan mulai dingin/normal. Setiap terbangun satu atau dua jam sekali, Mama Siwi meraba badan Papa Sulis, tidak ada tanda-tanda kenaikan suhu seperti malam sebelumnya. Tanda-tanda infeksi level (minimal) bisa dikendalikan oleh obat antibiotik dari dokter. Thanks God, semoga ini menjadi pertanda baik untuk kesehatan mereka berdua. Sejujurnya Mama Siwi membutuhkan mereka berdua untuk menghadapi pertarungan hidup mati Mama Siwi beberapa saat lagi, meski entah berapa hari lagi.

Kalau boleh jujur Mama Siwi lebih takut dalam menghadapi persalinan anak kedua ini daripada anak pertama. Dalam alam bawah sadar Mama Siwi ternyata Mama Siwi sangat trauma dengan proses persalinan pertama yang sampai memakan waktu cukup lama, karena Anin lahir dengan posisi kepala tengadah, jadi ”nyantol” di jalan keluar lahir, sampai-sampai Mama Siwi mengalami pendarahan hebat hingga 800 cc darah, padahal untuk persalinan normal maksimal 400 cc darah yang terbuang. Anin waktu itu sudah hampir ditarik pakai alat forsep yang mirip tang besar itu. Juga untuk rasa sakit yang luar biasa, karena Dokter Amino terkenal sebagai dokter kandungan yang anti terhadap obat pengurang rasa sakit atau obat bius. Memang dia tergolong dokter senior yang masih konservatif yang juga tidak mudah memutuskan operasi caesar, bahkan dalam keadaan yang sudah genting sekalipun. Seandainya pun persalinan besok akan pakai operasi caesar juga tidak mudah untuk Mama Siwi karena Mama Siwi punya riwayat gangguan jantung pada saat operasi usus buntu dilakukan persis 1,5 bulan sebelum Mama Siwi menikah. Jantung Mama Siwi termasuk tidak kuat dengan obat-obat anestesi/pembiusan lokal. Waktu itu, dalam keadaan setengah sadar, operasi usus buntu sempat dihentikan beberapa saat dan semua gunting/pisau diletakkan persis di atas perut karena jantung Mama Siwi megap-megap nggak karuan itu. Jadi sama saja, persalinan normal/spontan atau persalinan dengan operasi sama saja tidak nyaman buat Mama Siwi. Itulah mengapa Mama Siwi sangat membutuhkan dukungan dari Papa Sulis, suami tercinta. Eh, bukan berarti kalau tidak begini maka Mama Siwi tidak butuh Papa Sulis lhooo.

Suka dan duka silih berganti. Itulah hidup (part 1)

Memasuki minggu ke-39 kehamilan Mama Siwi yang belum juga menunjukkan tanda-tanda persalinan, dokter kandungan meminta Mama Siwi untuk USG lagi, tepatnya hari ini Rabu, 9 Mei 2007 (2 hari sebelum HPL/Hari Perkiraan Lahir). Nah, untuk USG ini Papa Sulis sengaja datang dari Semarang untuk menemani Mama Siwi, padahal baru Selasa, 8 Mei 2007 pagi-pagi jam 04.15 WIB Papa Sulis balik ke Semarang.

Hasil USG secara umum bagus, air ketuban juga masih jernih, kondisi bayi baik, semua organ dalam ukuran yang wajar (kebetulan memang diukur oleh dokter, baik lingkar kepala, lingkar perut, panjang paha, detak jantung), meski tergolong kecil karena berat bayi baru 2,7kg, padahal ini sudah usia kehamilan 39 minggu 5 hari. Memang lebih kecil dari Mbak Anin yang lahir maju 2 minggu dari HPL (38 minggu) seberat 3,05 kg., Catatan hasil USG tertulis PRESKEP artinya kepala bayi sudah mulai masuk ke panggul dan posisi badan bayi sudah ‘nungging’ alias sudah siap lahir, tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Puji Tuhan semua dalam keadaan baik, meski sempat membuat Mama Siwi was-was juga karena hari kelahiran tidak kunjung tiba, ada ketakutan ketuban sudah tidak baik atau keruh, dan adanya risiko belitan tali pusar (placenta privea).

Oya, mungkin karena kecapekan, sewaktu Papa Sulis sampai rumah tadi sore dalam keadaan demam dan mengeluh pusing kepala dan sendi-sendi kaki sakit semua. Ya sudah, setelah USG di Klinik Bersalin Sang Timur dekat Pasar Sentul, akhirnya Mama Siwi memaksa Papa Sulis untuk periksa ke RS Panti Rapih. Eh, kami naik taksi karena tidak ada yang berani bawa mobil, baik Mama Siwi maupun Papa Sulis. Di RS ketemu dokter jaga dan langsung diminta periksa darah, lengkap dengan SGPT, SGOT, dan Bilirubin. Sayang seribu sayang, hasil darah tidak bagus, nilai-nilai yang tidak wajar dari skor seharusnya “lekosit tinggi, limfosit rendah, eritrosit tinggi, bilirubin total tinggi, bilirubin direk tinggi, SGPT tinggi”. Duhhhh, apa itu maksudnya, terus terang Mama Siwi tidak paham dengan istilah-istilah medis seperti itu, yang jelas asal nilainya di luar skor wajar pasti ada yang tidak beres. Persis seperti yang Mama Siwi takutkan semula (pada saat menunggu hasil lab darah yang hampir 2 jam lamanya), dokter menahan Papa Sulis, berarti Papa Sulis harus opname saat itu juga. Nggak tau deh, perasaan Mama Siwi campur aduk, antara sedih, kecewa, dan rasa jengkel ada juga. Kenapa sih Papa Sulis harus sakit dan opname justru pada saat Mama Siwi dan si kecil di dalam kandungan sangat sangat membutuhkan kehadirannya menemani persalinan anak kedua kami, atau memang takdirnya adiknya Anin ini harus lahir tanpa ditunggui oleh Papanya. Ada perasaan jengkel juga karena Papa Sulis suka memforsir tenaganya untuk kerjaan, terutama semangatnya untuk nulis-nulis artikel dan proposal. Memang sih, Mama Siwi dan Anin ikut merasakan manfaatnya juga kalau ada tulisan atau proposal yang Papa Sulis tulis ‘tembus’, tapi kalau kemudian kesehatan yang dikorbankan itu sama juga bohong. Oya, dulu jauh sebelum Papa Sulis ketemu Mama Siwi, Papa Sulis pernah sakit gejala hepatitis. Mungkinkah penyakit yang sama terulang kembali. Sayangnya, waktu itu penyakit tidak diobati sampai tuntas. Yach, namanya juga bujangan, kadang masih suka teledor dengan kesehatannya karena belum mikir soal keluarga.

Ya sudah, berhubung dokter meminta opname, Mama Siwi segera mencari kamar untuk opname. Bisa dibayangkan, perut sudah semakin besar, musti ngurus macem-macem.. Saat itu hanya Mama Siwi dan Papa Sulis yang ke RS, praktis Papa Sulis sudah lemas tanpa tenaga karena sakitnya di ruang tunggu. Sekali lagi, pil pahit harus kami telan karena tidak ada satu pun kamar kosong di RS Panti Rapih, untuk semua klas kamar. Disarankan untuk mencari RS lain. Panik juga rasanya. Sempat ngobrol dengan seorang ibu yang sedang nyari kamar untuk anaknya yang kena demam berdarah, ternyata di RS Panti Nugroho Pakem dan RS Panti Rini Kalasan juga penuh. Tapi kalau mau ke RS Bethesda masih ada. Cuman problemnya satu, Kalau Papa Sulis opname di RS Bethesda bagaimana dengan Mama Siwi. Rencananya sih, biar di RS Panti Rapih saja, sekalian Mama Siwi bisa nunggu Papa Sulis sembari menanti persalinan. Kalau sudah terasa tanda-tanda persalinan tinggal lapor ke ruang persalinan di Gedung Carolus, tapi masih di RS yang sama. Sedih, bingung, nggak tau musti berbuat apa. Telepon sana telepon sini, sempat kontak Mas Didit untuk KKN dikit nyari kamar di RS Panti Rapih, ternyata juga tetap harus menunggu. Akhirnya, Mama Siwi menghubungi dokter jaga di UGD, minta saran dan obat jalan, terpaksa Papa Sulis dibawa pulang dulu. Tapi Mama Siwi sudah pesan kamar, status dalam posisi ’waiting list’. Semoga besok bisa segera dapat kamar.

Satu lagi yang lupa Mama Siwi ceritakan. Anin sudah 2 hari ini flu berat, sudah Mama Siwi obati dengan obat batuk dan pilek, tapi belum membaik juga. Rencana semula akan Mama Siwi bawa ke dokter setelah USG, sudah sempat kontak dokter anaknya, dr Tintin dan akan ’ngejar’ ke praktik swastanya. Tapi berhubung Mama Siwi harus USG dan ngurus Papa Sulis dulu, maka meriksain Anin ditunda besok Kamis ini.

Malam tiba ... sesampai rumah pukul 22.00 WIB, ternyata Anin belum tidur, karena flunya makin parah, maklum namanya juga anak-anak, yang pasti kalau hidungnya mampet nggak bakalan bisa tidur juga dan ’kolokan-nya’ kambuh. Dengar-dengar dari pengasuhnya, Mbak Ana, selama Mama Siwi pergi, setiap ada telepon berdering, Anin selalu bertanya ”Itu mama ya, mbak? Kok mama belum pulang-pulang juga?” Berhubung malam itu kondisi Papa Sulis dan Anin sama-sama buruknya, jadilah malam ini Mama Siwi ngrondain 2 orang sekaligus. Anin yang batuk sampai bergoncang-goncang hebat dan Papa Sulis yang suhunya selalu tinggi, sampai 38,5 derajat Celcius, sempat turun jadi 36 derajat Celcius, lalu naik lagi jadi 38,7 derajat Celcius. Jam 23.18 WIB, Mama Siwi sempat telepon ”tante dokter Ivana” untuk mengkonsultasikan keadaan Papa Sulis, thanks ya Tante. Saran Tante Ivana, kalau parah lebih baik dibawa ke RS Bethesda Lempuyangwangi saja, dimana dia praktik. Kebetulan masih ada kamar untuk pasien.

Ahhh, andaikata Mama Siwi tidak dalam keadaan hamil tua begini, pasti Mama Siwi bisa lebih optimal merawat orang-orang tercinta ini. Sepanjang malam Mama Siwi tidak bisa tidur sama sekali, mengompres Papa Sulis dengan sapu tangan basah agar suhu mau turun, juga selalu memberi obat transpulmin untuk Anin yang terus-menerus batuk. Oya, thanks juga untuk Tante Ari yang malam itu telepon Mama Siwi sampai 2 kali menanyakan kondisi Papa Sulis, waktu itu sudah pukul 01.54 WIB. Kok tumben Tante Ari belum tidur pas Mama Siwi sms Tante Ari.

Kalau boleh jujur, Mama Siwi merasa capek sekali, karena akhirnya malam ini Mama Siwi hanya tidur tidak lebih dari 2 jam, itupun terjadi setelah suhu Papa Sulis stabil dan badanya sudah bisa berkeringat, kira-kira pukul 04.00 WIB. Sementara Mama Siwi tetap harus ingat bahwa di dalam perut Mama juga ada seseorang yang pantas mendapatkan perhatian dan cinta. Oya, selama Mama Siwi merawat Papa Sulis dan Anin, si adik kecil di perut tidak mau tidur juga alias selalu bergerak aktif, mungkin dia solider dengan mamanya untuk merawat orang-orang tercinta ini. Syukur padaMu, Tuhan, karena dalam segala keterbatasan seperti ini, Kau-sucikan cinta kami melalui tangan-tangan kami yang tidak berdaya .... Juga untuk dukungan dari orang-orang di sekeliling kami atas cobaan yang kami hadapi ... ada Tante Ari dan Tante Ivana (lewat telepon dini harinya), ada Tante Yulfitri, Tante Linggar, Eyang Juk Jakarta, Tante Anna Pur, Tante Naning (lewat sms-smsnya yang meneguhkan Mama Siwi untuk sabar), juga Tante Rini AIA (lewat telepon pagi hari untuk tawaran bantuannya ngurus asuransi kesehatan Papa Sulis kalau opname).

Oya, kabar terbaru dan terindah hari ini, tadi dokter kandungan, dr Amino Rahardjo, Sp.Og. bilang kalau adik Anin itu laki-laki (padahal Mama Siwi dan Papa Sulis tidak pernah nanya setiap kali USG dilakukan, penginnya sih surprise saja). Ya Tuhan, terima kasih. Akhirnya eyang Yogya dan eyang Klaten kesampaian juga punya cucu laki-laki. Berarti betul juga mimpi Tante Ari, mimpi Tante Indi, dan tebakan Bulik Nil bahwa adik Anin kali ini adalah laki-laki.

Saturday, May 05, 2007

Proficiat untuk Tante Linggar dan Oom Aji

Hari ini Tante Linggar dan Oom Aji saling mengikat janji untuk hidup bersama lho, tepatnya di Kapel Panti Semedi Klaten jam 09.00 WIB ini. Oya, berhubung kandungan Mama Siwi sudah semakin besar dan takut kecapekan, maka Mama Siwi absen dari acara pernikahan mereka. Tapi Papa Sulis datang kok untuk mewakili keluarga Sulistyanto. Barusan Mama Siwi juga sudah pamit ke Tante Linggar dan Oom Aji melalui handphone.

Siapa Tante Linggar itu? Oya, ini salah satu “adik ketemu gedhe”-nya Mama Siwi. Jauh sebelum Mama Siwi mengenal Papa Sulis, Mama Siwi sudah kenal duluan dengan Tante Linggar, tepatnya pada awal tahun 2001 di Semarang, waktu itu Mama Siwi ke Semarang untuk jagong pernikahan Budhe ”drg” Tanti, berhubung nggak ada tempat transit, maka Mama Siwi ditemani Tante Cynthia (teman kuliah S2 Mama Siwi) nginap di rumah Tante Lucky (ini teman kuliah S2 Mama Siwi juga). Pas akan pulang, sempat berkenalan dengan Tante Linggar karena selama di Semarang itu motor Tante Linggar dipakai oleh Mama Siwi. Buat informasi saja nih, dulu waktu Tante Linggar masih mahasiswa di FE UAJY sempat ambil kuliah Manajemen Keuangan yang Mama Siwi ajar, malahan di kemudian hari ketauan Tante Linggar pernah ”dikeluarin dari klas” gara-gara kasus pemalsuan tanda tangan di klas Mama Siwi ...

Entah ya, mungkin semua itu misterinya Yang Maha Kuasa. Sejak saat itu, kok Mama Siwi dan Tante Linggar jadi ”dekat”, lebih-lebih setelah Mama Siwi lulus S2 Maret 2001 dan ganti mobil jadi ”si hitam Classy” jadi sering dolan ke Semarang atau ke Klaten. Bisa dipastikan kalau Mama Siwi nginap di rumah kontrakan Tante Linggar di Semarang atau di rumah Tante Linggar di Klaten. Praktis Mama Siwi jadi kenal baik dengan teman-teman dosen di FE Unika Soegijapranata, juga kenal baik dengan keluarga besar Eyang Sukartini Sukirman (ini ibunya Tante Linggar di Klaten). Pokoknya kalo Mama Siwi nginap Klaten sudah kayak anak sendiri deh.

Ada yang aneh nih, berhubung Tante Linggar itu dosen Akuntansi di FE Unika Soegijapranata., kira-kira Februari 2002 pas Mama Siwi dolan ke Semarang, bertepatan dengan FE Unika punya kerja bikin seminar. Sesampai sana, waktu itu malam hari, Mama Siwi diajak Tante Linggar untuk ke kampus, mberesin persiapan seminar, karena seluruh panitia sedang sibuk persiapan di kampus. Nah, di malam itulah Mama Siwi pertama kali kenal dengan Papa Sulis. Mama Siwi masih ingat betul, karena malam itu, Tante Linggar mengajak menjemput Papa Sulis dulu di suatu hotel (kebetulan Papa Sulis masih studi S2 di UGM, jadi di Semarang tidak tinggal di kost lagi).

Itulah misterinya kehidupan, entah bagaimana ceritanya, kok lama-lama Papa Sulis intensif melakukan”pendekatan” dengan Mama Siwi di Yogya, sampai akhirnya kami menikah di akhir Desember 2002. Cinta itu memang aneh. Tidak pernah ditebak kapan dan bagaimana datangnya. Denger-denger di kemudian hari, Papa Sulis dulu suka cari ”sisik melik” alias informasi tentang Mama Siwi ke Tante Linggar sebagai temannya yang dianggap deket dengan Mama Siwi, kebetulan Tante Linggar dan Papa Sulis khan sama-sama orang Klaten, dan biasa pulang ke Klaten kalau weekend.

Masih bicara tentang keanehan cinta. Kayaknya sama juga dengan cinta antara Tante Linggar dan Oom Aji. Waktu itu, pasca gempa DIY Klaten 27 Mei 2006. Papa Sulis dan beberapa teman dosen Unika jadi relawan di posko gempa Unika. Waktu itu Mama Siwi dan Anin ngungsi ke rumah Eyang Kakung dan Eyang Putri Klaten, sementara Papa Sulis sibuk di posko gempa. Di lokasi itulah Tante Linggar dan Oom Aji ketemu. Dulu Papa Sulis suka iseng-iseng manas-manasin Tante Linggar dan Oom Aji. Oya, Oom Aji ini juga dosen di Unika, kebetulan orang Klaten juga. Entah deh, cerita kelanjutannya bagaimana. Yang jelas, suatu malam, waktu itu Pak Ferdinand (pembantu Rektor III-nya Unika) kesripahan ayahnya di Klaten, tau-tau dini hari Papa Sulis disamperin di rumah Klaten oleh Tante Linggar dan Oom Aji (yang dateng dari Semarang) untuk ngajak melayat bersama. Besok paginya, Mama Siwi masih ingat, waktu Papa Sulis bilang kalo Tante Linggar dan Oom Aji ternyata ”sudah jadian”. Syukur deh, puji Tuhan, akhirnya Tante Linggar menemukan jodohnya juga. Congratulation ya, Tante ... Oom ...

Itulah sekelumit kisah pertemuan pertama Mama Siwi dan Papa Sulis, juga pertemuan pertama Tante Linggar dan Oom Aji. Semoga semangat cinta tidak akan pudar di telan oleh waktu. Amin ... Amin ... Amin ....

Akhirnya, sebagai hadiah pernikahan buat Tante Linggar dan Oom Aji, keluarga Sulistyanto hanya bisa mengingatkan pada tulisan pendek ini ....

Berpasanganlah engkau telah diciptakan.
Dan selamanya engkau akan berpasangan.
Bersamalah dikau tatkala Sang Maut merenggut umurmu.
Bahkan bersama pula kalian dalam ingatan suci Tuhan.
Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu.
Tempat angin surga menari-nari di antaramu.

Berkasih-kasihanlah, namun jangan membelenggu cinta.
Biarkan cinta bergerak senantiasa, bagaikan air hidup.
Yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa.
Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala.
Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dari pinggan yang sama.
Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala sukacita.
Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.
Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri.
Walau lagu yang sama sedang menggetarkannya.

Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya.
Sebab Tangan Kehidupan yang akan mampu mencakupnya.
Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat.
Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat?
Dan pohon jati dan pohon cemara, tiada tumbuh dalam bayangan masing-masing.

Kahlil Gibran

Thursday, May 03, 2007

RENUNGAN bagi orang-orang yang masih mau memperjuangkan CINTA SEJATI

Ketika Tidak Cocok Lagi !
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis sepertiseorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolakbelakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untukmenciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian. "Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut."Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini", jawab saya.Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, " Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?" Seseorang berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya.Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan," Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannyadi dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakahkamu akan melakukannya untuk saya?" Dia berkata, " Saya akan memberikanjawabannya besok."Hati saya langsung gundah mendengar responnya.Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembarkertas dengan coret-coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan?"Sayang, Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali...."Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program diPC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, lalu saya harusmemberikan jari-jari saya untuk memperbaiki programnya." "Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah , membukakan pintuuntukmu.""Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untukmengarahkanmu." "Kamu selalu pegal-pegal pada waktu "tamu kamu" datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal." "Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akanjadi "aneh". Lalu saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-lelucon dan cerita-cerita untuk menyembuhkan kebosananmu." "Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapatmenolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu...""Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimulebih dari saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga itulalu mati..."Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali... "Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu....! " Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang dulu sangat aku cintai, dia begitu penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti. Aku tidak kuat lagi dan langsung memeluknya dan rebah di bahunya yang bidang sambil menangis...Oh, Tuhan, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintaiku sepertiyang dia lakukan dan saya harus melupakan "bunga" itu sendiri. Itulah hidup, atau boleh dikatakan, CINTA , ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada di antara kedamaian dan kesepian. Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk.Bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui. Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Di atas semua ini, pilar cinta sejati harus tegak berdiri dan itulah kehidupan kita...

Wednesday, May 02, 2007

HOME SWEET HOME (part 5)


Setelah beberapa bulan proses pembangunan rumah dilakukan, ini foto-foto terbaru rumah Deresan saat ini. Sudah mulai kelihatan manusiawi dibandingkan dulu. Yang jelas, lantai keramik sudah terpasang semua di lantai 1 dan lantai 2, keramik dan lantai kamar mandi juga sudah terpasang, cat tembok baru polesan pertama dari tiga kali polesan. Dari 16 kavling yang ada dalam perumahan itu, sudah 3 rumah yang jadi, tapi belum satu pun yang ditempati oleh pemiliknya. Kabar terbaru, jalan perumahan persis di depan rumah HPG B2 sudah dibangun, pakai conblock, cukup lebar juga, sekitar 5 meter, jadi 2 mobil berselisih jalan masih cukup.

Daisypath Ticker