HOME SWEET HOME (part 1)
Hampir lima tahun sudah pernikahan Mama Siwi dan Papa Sulis. Memang pernikahan tidak selalu melewati jalan yang mulus, pasti ada saja kerikil-kerikil yang mengganggu kaki, yang kadangkala malahan begitu tajam. Mengawali pernikahan antar dua kota (Yogyakarta dan Semarang) bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, karena Mama Siwi dan Papa Sulis masih terikat kontrak ikatan dinas di kantor masing-masing. Mama Siwi di Atma Jaya Yogyakarta, Papa Sulis di Unika Soegijapranata Semarang. Lucunya ikatan dinas Mama dan Papa berakhir di tahun yang sama, yaitu tahun 2007. Adalah hal yang wajar kalau Mama dan Papa punya keinginan untuk mempunyai rumah sendiri, rumah yang tidak hanya bermakna ”house”, tetapi juga ”home”. Rumah yang benar-benar bisa memberi ketenangan batin untuk semua penghuninya. Meskipun untuk mewujudkan cita-cita itu bukanlah hal yang mudah, mengingat kehidupan di dua kota menuntut pengorbanan finansial yang tidak sedikit karena dua kota berarti juga ”dua dapur, dua saklar, dua instalasi”.
Keinginan mempunyai rumah sendiri semakin besar, tepat setelah gempa besar melanda kota Yogya 27 Mei 2006 yang diikuti dengan mengungsinya Mama Siwi dan Anin ke Klaten di rumah Eyang Kakung dan Eyang Putri Marno karena rumah Baciro rusak lumayan parah dan harus diperbaiki sampai 9 minggu lamanya.
Di sela-sela mondar-mandirnya Mama Siwi antara Klaten-Yogya untuk bekerja, Mama Siwi hunting rumah untuk kami bertiga, Mama Siwi, Papa Sulis, dan Anin. Mulai dari rumah second, rumah siap huni (ready stock), sampai dengan rumah-rumah di perumahan yang masih berupa kavling. Dari ujung timur kota Yogya di daerah Maguwohardjo, di daerah Babarsari, di daerah Pringwulung, di ujung utara kota Yogya di daerah Condong Catur, di daerah Purwomartani, di daerah Deresan, di daerah Jalan Kaliurang sampai dengan Dayu, di daerah utara Monumen Yogya Kembali, sampai di ujung barat kota Yogya di daerah jalan Magelang. Kadangkala Mama Siwi jalan-jalan cari rumah dengan Oom Yosi (ini mantan asisten penelitian Mama di UAJY) atau dengan Mbak Lia (ini keponakan Mama yang arsitek dan kerja di developer Matagiri), tapi lebih sering Mama Siwi jalan sendiri, lebih banyak naik motor berhubung pakai motor lebih mudah kalau harus masuk-masuk ke jalan-jalan kecil. Melelahkan yang pasti, tapi untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan tentunya membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil.
God, grant me the serenity to accept the things I cannot change,
The courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.
Setelah berbulan-bulan lamanya (sebenarnya sudah sejak tahun 2005 sih) Mama Siwi hunting rumah. Akhirnya Mama Siwi ketemu rumah yang lokasinya sangat strategis, di daerah Deresan, meskipun masih berupa kavling tanah, sayangnya harganya lumayan mahal untuk ukuran kantong Mama Siwi dan Papa Sulis. Eyang Putri dan Eyang Kakung Mardjo sudah duluan Mama Siwi ajak lihat lokasi rumah, berhubung Mama Siwi berniat meminta bantuan “soft loan” (parent’s foundation) kepada mereka berdua. Hehehehe. Saat itu memang Papa Sulis belum tahu karena memang Mama Siwi berniat mengajak lihat lokasi setelah semuanya jelas, termasuk alternatif sumber pendanaan pembelian rumah itu.
Suatu hari Minggu, Mama Siwi mengajak Papa Sulis muter-muter menjalani “napak tilas”
Mama waktu hunting rumah, mulai dari timur kota Yogya, ke utara kota Yogya, ke barat kota Yogya, akhirnya berakhir di daerah Deresan, pilihan lokasi yang Mama Siwi incar. Entah kenapa, kok kebetulan Papa Sulis juga ‘very interesting’ dengan lokasi yang Mama Siwi pilih, Puji Tuhan. Oya, nama perumahan itu Harmoni Pesona Graha (biasa disingkat HPG), lokasi tepatnya di daerah Deresan, Catur Tunggal, Sleman. Dari ringroad utara kira-kira 70 meter jauhnya, dari UGM dan UNY hanya 250 meter, sedangkan dari jalan Gejayan kira-kira 200 meter. Strategis juga karena akses mencari kendaraan umum mudah sekali.Oya, setelah berpikir dan mencari informasi ke banyak sumber, akhirnya Mama Siwi dan Papa Sulis memilih kavling B2 yang terletak di tengah-tengah perumahan dan bersebelahan dengan lahan kosong yang diperuntukkan sebagai taman perumahan. Pertimbangan kami, lokasi kavling di tengah akan lebih aman dibandingkan lokasi kavling paling pinggir yang jauh dari pengawasan pos keamanan/satpam, selain itu keberadaan di samping taman akan memudahkan penghuninya bersosialisasi dengan tetangga di perumahan itu. Mengingat yang namanya taman selalu menjadi areal publik yang cenderung didatangi orang. Satu lagi, Mama Siwi lumayan mengadopsi Feng Sui nih, berdasarkan pertimbangan arah rumah dan panjang lebar tanah yang Mama pilih itu Feng Sui-nya bagus karena murah rejeki, hehehee. Tapi konsekuensi logis memilih kavling di samping taman adalah harga rumah pasti lebih mahal daripada kavling-kavling yang terletak di pinggir sih.
Setelah Mama Siwi dan Papa Sulis mantap dengan pilihan lokasi rumah tersebut, muncul persoalan berkaitan dengan pendanaan untuk membeli rumah itu. Hehhehe, mau ngutang kemana ya??? Juga yang tidak kalah penting segera memproses pembelian rumah ke developer pembangun perumahan tersebut. Oya, nama developernya PT Gerbang Madani Group. Bisa lihat websitenya kok, di www.gerbangproperti.com
Setelah tanda jadi untuk pesan kavling Mama Siwi serahkan ke developer, mulailah Mama Siwi dan Papa Siwi berembug dengan arsitek perumahan itu, karena tentunya ada perubahan di sana di sini sesuai selera kami. Juga satu hal yang tidak terlupa adalah negosiasi alias tawar-menawar harga rumah setelah perubahan-perubahan dilakukan. Oya, dari tipe 78/108 berubah menjadi tipe 82/108. Ternyata Tuhan memang menyertai kami. Semua persoalan bisa diselesaikan, termasuk urusan finansial. Oya, Mama Siwi dan Papa Sulis akan ambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) nih, habis kalau tidak begitu darimana Mama Siwi dan Papa Sulis dapat duit dong. Berarti segera melengkapi berkas-berkas pengajuan KPR ke bank, untungnya developernya bersedia menguruskan atau mencarikan bank yang bersedia memberikan KPR buat kami.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home