Thursday, May 10, 2007

Suka dan duka silih berganti. Itulah hidup (part 1)

Memasuki minggu ke-39 kehamilan Mama Siwi yang belum juga menunjukkan tanda-tanda persalinan, dokter kandungan meminta Mama Siwi untuk USG lagi, tepatnya hari ini Rabu, 9 Mei 2007 (2 hari sebelum HPL/Hari Perkiraan Lahir). Nah, untuk USG ini Papa Sulis sengaja datang dari Semarang untuk menemani Mama Siwi, padahal baru Selasa, 8 Mei 2007 pagi-pagi jam 04.15 WIB Papa Sulis balik ke Semarang.

Hasil USG secara umum bagus, air ketuban juga masih jernih, kondisi bayi baik, semua organ dalam ukuran yang wajar (kebetulan memang diukur oleh dokter, baik lingkar kepala, lingkar perut, panjang paha, detak jantung), meski tergolong kecil karena berat bayi baru 2,7kg, padahal ini sudah usia kehamilan 39 minggu 5 hari. Memang lebih kecil dari Mbak Anin yang lahir maju 2 minggu dari HPL (38 minggu) seberat 3,05 kg., Catatan hasil USG tertulis PRESKEP artinya kepala bayi sudah mulai masuk ke panggul dan posisi badan bayi sudah ‘nungging’ alias sudah siap lahir, tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Puji Tuhan semua dalam keadaan baik, meski sempat membuat Mama Siwi was-was juga karena hari kelahiran tidak kunjung tiba, ada ketakutan ketuban sudah tidak baik atau keruh, dan adanya risiko belitan tali pusar (placenta privea).

Oya, mungkin karena kecapekan, sewaktu Papa Sulis sampai rumah tadi sore dalam keadaan demam dan mengeluh pusing kepala dan sendi-sendi kaki sakit semua. Ya sudah, setelah USG di Klinik Bersalin Sang Timur dekat Pasar Sentul, akhirnya Mama Siwi memaksa Papa Sulis untuk periksa ke RS Panti Rapih. Eh, kami naik taksi karena tidak ada yang berani bawa mobil, baik Mama Siwi maupun Papa Sulis. Di RS ketemu dokter jaga dan langsung diminta periksa darah, lengkap dengan SGPT, SGOT, dan Bilirubin. Sayang seribu sayang, hasil darah tidak bagus, nilai-nilai yang tidak wajar dari skor seharusnya “lekosit tinggi, limfosit rendah, eritrosit tinggi, bilirubin total tinggi, bilirubin direk tinggi, SGPT tinggi”. Duhhhh, apa itu maksudnya, terus terang Mama Siwi tidak paham dengan istilah-istilah medis seperti itu, yang jelas asal nilainya di luar skor wajar pasti ada yang tidak beres. Persis seperti yang Mama Siwi takutkan semula (pada saat menunggu hasil lab darah yang hampir 2 jam lamanya), dokter menahan Papa Sulis, berarti Papa Sulis harus opname saat itu juga. Nggak tau deh, perasaan Mama Siwi campur aduk, antara sedih, kecewa, dan rasa jengkel ada juga. Kenapa sih Papa Sulis harus sakit dan opname justru pada saat Mama Siwi dan si kecil di dalam kandungan sangat sangat membutuhkan kehadirannya menemani persalinan anak kedua kami, atau memang takdirnya adiknya Anin ini harus lahir tanpa ditunggui oleh Papanya. Ada perasaan jengkel juga karena Papa Sulis suka memforsir tenaganya untuk kerjaan, terutama semangatnya untuk nulis-nulis artikel dan proposal. Memang sih, Mama Siwi dan Anin ikut merasakan manfaatnya juga kalau ada tulisan atau proposal yang Papa Sulis tulis ‘tembus’, tapi kalau kemudian kesehatan yang dikorbankan itu sama juga bohong. Oya, dulu jauh sebelum Papa Sulis ketemu Mama Siwi, Papa Sulis pernah sakit gejala hepatitis. Mungkinkah penyakit yang sama terulang kembali. Sayangnya, waktu itu penyakit tidak diobati sampai tuntas. Yach, namanya juga bujangan, kadang masih suka teledor dengan kesehatannya karena belum mikir soal keluarga.

Ya sudah, berhubung dokter meminta opname, Mama Siwi segera mencari kamar untuk opname. Bisa dibayangkan, perut sudah semakin besar, musti ngurus macem-macem.. Saat itu hanya Mama Siwi dan Papa Sulis yang ke RS, praktis Papa Sulis sudah lemas tanpa tenaga karena sakitnya di ruang tunggu. Sekali lagi, pil pahit harus kami telan karena tidak ada satu pun kamar kosong di RS Panti Rapih, untuk semua klas kamar. Disarankan untuk mencari RS lain. Panik juga rasanya. Sempat ngobrol dengan seorang ibu yang sedang nyari kamar untuk anaknya yang kena demam berdarah, ternyata di RS Panti Nugroho Pakem dan RS Panti Rini Kalasan juga penuh. Tapi kalau mau ke RS Bethesda masih ada. Cuman problemnya satu, Kalau Papa Sulis opname di RS Bethesda bagaimana dengan Mama Siwi. Rencananya sih, biar di RS Panti Rapih saja, sekalian Mama Siwi bisa nunggu Papa Sulis sembari menanti persalinan. Kalau sudah terasa tanda-tanda persalinan tinggal lapor ke ruang persalinan di Gedung Carolus, tapi masih di RS yang sama. Sedih, bingung, nggak tau musti berbuat apa. Telepon sana telepon sini, sempat kontak Mas Didit untuk KKN dikit nyari kamar di RS Panti Rapih, ternyata juga tetap harus menunggu. Akhirnya, Mama Siwi menghubungi dokter jaga di UGD, minta saran dan obat jalan, terpaksa Papa Sulis dibawa pulang dulu. Tapi Mama Siwi sudah pesan kamar, status dalam posisi ’waiting list’. Semoga besok bisa segera dapat kamar.

Satu lagi yang lupa Mama Siwi ceritakan. Anin sudah 2 hari ini flu berat, sudah Mama Siwi obati dengan obat batuk dan pilek, tapi belum membaik juga. Rencana semula akan Mama Siwi bawa ke dokter setelah USG, sudah sempat kontak dokter anaknya, dr Tintin dan akan ’ngejar’ ke praktik swastanya. Tapi berhubung Mama Siwi harus USG dan ngurus Papa Sulis dulu, maka meriksain Anin ditunda besok Kamis ini.

Malam tiba ... sesampai rumah pukul 22.00 WIB, ternyata Anin belum tidur, karena flunya makin parah, maklum namanya juga anak-anak, yang pasti kalau hidungnya mampet nggak bakalan bisa tidur juga dan ’kolokan-nya’ kambuh. Dengar-dengar dari pengasuhnya, Mbak Ana, selama Mama Siwi pergi, setiap ada telepon berdering, Anin selalu bertanya ”Itu mama ya, mbak? Kok mama belum pulang-pulang juga?” Berhubung malam itu kondisi Papa Sulis dan Anin sama-sama buruknya, jadilah malam ini Mama Siwi ngrondain 2 orang sekaligus. Anin yang batuk sampai bergoncang-goncang hebat dan Papa Sulis yang suhunya selalu tinggi, sampai 38,5 derajat Celcius, sempat turun jadi 36 derajat Celcius, lalu naik lagi jadi 38,7 derajat Celcius. Jam 23.18 WIB, Mama Siwi sempat telepon ”tante dokter Ivana” untuk mengkonsultasikan keadaan Papa Sulis, thanks ya Tante. Saran Tante Ivana, kalau parah lebih baik dibawa ke RS Bethesda Lempuyangwangi saja, dimana dia praktik. Kebetulan masih ada kamar untuk pasien.

Ahhh, andaikata Mama Siwi tidak dalam keadaan hamil tua begini, pasti Mama Siwi bisa lebih optimal merawat orang-orang tercinta ini. Sepanjang malam Mama Siwi tidak bisa tidur sama sekali, mengompres Papa Sulis dengan sapu tangan basah agar suhu mau turun, juga selalu memberi obat transpulmin untuk Anin yang terus-menerus batuk. Oya, thanks juga untuk Tante Ari yang malam itu telepon Mama Siwi sampai 2 kali menanyakan kondisi Papa Sulis, waktu itu sudah pukul 01.54 WIB. Kok tumben Tante Ari belum tidur pas Mama Siwi sms Tante Ari.

Kalau boleh jujur, Mama Siwi merasa capek sekali, karena akhirnya malam ini Mama Siwi hanya tidur tidak lebih dari 2 jam, itupun terjadi setelah suhu Papa Sulis stabil dan badanya sudah bisa berkeringat, kira-kira pukul 04.00 WIB. Sementara Mama Siwi tetap harus ingat bahwa di dalam perut Mama juga ada seseorang yang pantas mendapatkan perhatian dan cinta. Oya, selama Mama Siwi merawat Papa Sulis dan Anin, si adik kecil di perut tidak mau tidur juga alias selalu bergerak aktif, mungkin dia solider dengan mamanya untuk merawat orang-orang tercinta ini. Syukur padaMu, Tuhan, karena dalam segala keterbatasan seperti ini, Kau-sucikan cinta kami melalui tangan-tangan kami yang tidak berdaya .... Juga untuk dukungan dari orang-orang di sekeliling kami atas cobaan yang kami hadapi ... ada Tante Ari dan Tante Ivana (lewat telepon dini harinya), ada Tante Yulfitri, Tante Linggar, Eyang Juk Jakarta, Tante Anna Pur, Tante Naning (lewat sms-smsnya yang meneguhkan Mama Siwi untuk sabar), juga Tante Rini AIA (lewat telepon pagi hari untuk tawaran bantuannya ngurus asuransi kesehatan Papa Sulis kalau opname).

Oya, kabar terbaru dan terindah hari ini, tadi dokter kandungan, dr Amino Rahardjo, Sp.Og. bilang kalau adik Anin itu laki-laki (padahal Mama Siwi dan Papa Sulis tidak pernah nanya setiap kali USG dilakukan, penginnya sih surprise saja). Ya Tuhan, terima kasih. Akhirnya eyang Yogya dan eyang Klaten kesampaian juga punya cucu laki-laki. Berarti betul juga mimpi Tante Ari, mimpi Tante Indi, dan tebakan Bulik Nil bahwa adik Anin kali ini adalah laki-laki.

1 Comments:

At 12:09 PM, Blogger ari_hartanto said...

Mungkin si adek kecil sedang menunggu seseorang atau suatu keadaan (misalnya nunggu papanya sembuh supaya bisa menemani mamanya pas persalinan, atau nunggu mbak Anin sembuh supaya tidak ketularan flu)...

Tuhan pasti tahu kok kapan waktu terbaik untuk adek kecil lahir... sabar aja...

Sekarang tinggal mamanya yang mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi persalinan. Semoga lancar semuanya. Adek kecil nggak usah berat-berat deh biar keluarnya gampang... Doa dari kami sekeluarga semoga semua cepat sembuh dan adek kecil bisa lahir normal dan lancar. Amin.

 

Post a Comment

<< Home

Daisypath Ticker