Suka dan duka silih berganti.Itulah hidup (part 2)
Ternyata cobaan belum mau berakhir sampai di sini. Pagi hari, kira-kira pukul 06.00 WIB Mama Siwi sudah mandi, rapi, untuk ke rumah Dr. Haryatno di Jalan Munggur Demangan. Oya, dokter ini adalah dokter yang mengepalai Klinik Pengobatan Alternatif RSPR sekaligus dokter yang dulu (tahun 2002) pernah menangani Papa Sulis untuk sakit seperti yang sekarang ini. Satu lagi, Mama Siwi sudah kenal betul dengan dokter ini karena Dr. Haryatno adalah juga dokter Mama Siwi kalau pas Mama Siwi kambuh maagnya jauh sebelum pernikahan Mama Siwi dan Papa Sulis berlangsung.
Mama Siwi ke rumahnya, ternyata ’kepancal’, karena pak dokter sudah berangkat ke RSPR untuk praktik. Ya sudah Mama Siwi susul saja, oya, Mama Siwi perginya sendirian, naik motor, karena lebih baik Papa Sulis di rumah untuk istirahat saja. Di tempat parkir RSPR nggak sengaja ketemu Oom Agus (nah yang satu ini adalah mantan pacarnya Tante Ari yang kerja di RS ini). Kata Oom Agus, barusan saja Tante Ari telepon dia, meminta tolong untuk bisa mencarikan kamar buat Papa Sulis. Thanks again ya Tante Ari. Mama Siwi terus minta tolong ditemeni Oom Agus untuk mencari Dr. Haryatno. Ternyata dokter belum datang, kebetulan praktiknya memang pukul 07.30 WIB. Aduhhh, ngebayangin nggak sih, nunggu dokter itu sama dengan mahasiswa nunggu dosennya, yang tidak jelas bakalan datang jam berapa. Mana tadi Mama Siwi belum sempat sarapan, baru minum susu prenagen 1 mug, jadi rasanya lapar betul, apalagi semalaman begadang gitu.
Akhirnya ketemu juga dengan dokter. Kami berdiskusi tentang hasil lab darah Papa Sulis dan obat-obat yang diberikan dokter jaga, juga soal kemungkinan seandainya dirawat sendiri di rumah (rawat jalan) dengan pengobatan alternatif. Selain karena nyari kamar di RSPR susahnya bukan main, juga karena Papa Sulis berat untuk opname karena ingin menemani Mama Siwi melahirkan. Kalau Papa Sulis terpaksa dirawat di RS lain, pasti tidak mungkin menunggui Mama Siwi melahirkan di RSPR. Dari hasil pembicaraan itu, dokter memberi tambahan obat 2 macam dan 2 macam jamu olahan. Jadi semua obat yang harus Papa Sulis telan ada 7 macam. Duuhh, kebayang enggak sih, kalau Papa Sulis harus minum salah satu jamu berupa 1 gelas penuh jamu seduh yang pasti pahit bener. Pokoknya ada obat antibiotik untuk mengobati infeksinya (yang ditandai dengan lekosit yang tinggi), yang jelas obat antibiotik dicari yang tidak menimbulkan efek alergis buat Papa Sulis (biasanya yang mengandung kata cillin-cillin). Ada obat untuk menurunkan kadar enzym SGPT dalam lever yang namanya HP Pro dan jamu seduh yang bernama Tacho (maybe ramuan dari bahan-bahan jamu termasuk temulawak yang mujarab untuk menurunkan kadar SGPT), ada juga jamu dalam 1 kapsul yang berfungsi sebagai antioksidan. Dalam pertemuan dengan dokter itu, Mama Siwi sekaligus minta pengobatan sampai tuntas, dengan meminta pengantar untuk cek darah kembali setelah semua obat itu habis diminum dan meminta jadwal praktik dokter di RSPR.
Sesampai rumah, kira-kira pukul 09.00 WIB ternyata Papa Sulis sudah mulai demam lagi. Mama Siwi lupa tadi, semua obat semalam dari dokter jaga itu Mama Siwi bawa, lupa tidak meninggalkannya 1 biji untuk diminum Papa Sulis. Papa Sulis dibelikan Mama Siwi bubur ayam untuk sarapan, sambil Mama Siwi suapi Papa Sulis harus memakan obat-obatan yang sudah diberikan dokter itu. Perasaan Mama Siwi saat itu sedih campur jengkel, melihat makan Papa Sulis yang susahnya bukan main. Sudah dibelikan susah-susah, tidak dihabiskan lagi. Rasanya lebih mudah memaksa makan anak sekecil Anin, daripada ”anak segedhe” Papa Sulis yang bisanya membantah dan mengeluh. Sebel nggak rasanya?! Memang sih, Mama Siwi paham betul, gimana rasanya mual dan ketakutan muntah itu terjadi pada Papa Sulis. Tapi khan belum terbukti kalau muntah (rasanya sejak kemarin Mama Siwi belum melihat Papa Sulis muntah tuh), kenapa sih harus takut muntah. Toh andaikata muntah pun, itu terjadi di rumah, gampang buat dibersihkan, nggak ketauan orang lain selain orang rumah. Bagaimana mau cepat sembuh kalau makan saja susahnya bukan main. Juga karena dirawat sendiri di rumah, praktis tubuh tidak diinfus untuk segera bisa menetralisir demam Papa Sulis yang 38,7 derajat Celcius lagi. Upaya menurunkan suhu badan ya lewat obat dan kompres. Jadilah Mama Siwi ngompres Papa Sulis lagi.
Siang harinya, pukul 12.00 WIB Mama Siwi ngantar Anin periksa ke Dr. Tintin ditemani Mbak Ana. Untuk alasan penghematan, Mama Siwi beranikan diri untuk tetap bawa mobil. Sejujurnya agak takut juga sih. Tapi bisa menghemat banyak dana daripada naik taksi yang boros. Urusan dengan Dr. Tintin beres. Anin diberi obat puyer yang isinya campuran antara obat batuk, obat pilek, dan obat turun panas. Kayaknya sih ada antibiotiknya karena harus diminum sampai habis.
Oya, hubungan Mama Siwi dengan dokter anak Anin alias Dr. Tintin lumayan deket. Orangnya masih muda, cantik lagi. Dulu sekali Papa Sulis pernah bilang, kalau nganter Anin ke dokter itu semangat, ya minimal yang sembuh sakitnya itu Papanya, maksimalnya sakit Anin yang sembuh. Hehhee. Saking deketnya Mama Siwi dengan Dr. Tintin, kalau ada apa-apa Mama Siwi suka telepon atau sms. Hebatnya sms pun dibalas oleh dokter. Pernah dulu sekali, ketika Anin demam dini hari pukul 02.00 WIB (terang saja bu dokter sudah tidur ya), Mama Siwi kirim sms. Eh, paginya Dr. Tintin duluan yang mengontak Mama Siwi ”Bagaimana Anin?”
Waktu ke dokter anak itu, Mama Siwi sempat cerita soal si kecil yang belum mau lahir, padahal HPLnya tinggal 1 hari lagi. Juga soal sakit Papa Sulis yang nggak dapat kamar di RSPR dan beberapa RS lain rekanan RSPR, yang akhirnya Papa Sulis dirawat sendiri oleh Mama Siwi di rumah dengan obat dari klinik alternatif RSPR. Dokter Tintin hanya geleng-geleng kepala, heran, campur takjub kali ya, melihat apa yang Mama Siwi lakuin.
Seperti bisa dipastikan. Sesampai rumah, kali ini Mama Siwi harus menjumpai Papa Sulis yang mulai demam lagi. Kenapa sih, tubuh itu bandel sekali, sebegitu parahnya infeksi lever terjadi, sampai-sampai suhu nggak mau turun juga. Kalau begini terus, rasanya Mama Siwi tidak bakalan sanggup untuk selalu menemani dan mengompres Papa Sulis deh. Satu-satunya cara ya infus itu. Tapi berarti harus opname. Lalu bagaimana dengan proses persalinan tanpa suami di samping. Wanita atau istri mana sih yang tidak ingin melahirkan dengan didampingi suaminya. Biar ditunggui orang tua dan mertua, bahkan orang sekampung sekalipun, pasti lebih baik kalau ditunggui suami sendiri. Tidak hanya ”kesukaan” pada saat membuatnya saja, tapi ”kedukaan dan penderitaan” pada saat mengeluarkan juga seharusnya bisa dirasakan berdua. Ya meski dalam kenyataan penderitaannya nggak bisa juga dirasakan oleh para suami ya, tapi minimal para suami ikutan cemas dan berempati melihat kalau-kalau istrinya kenapa-kenapa dalam proses persalinan. Bukannya justru ada di tempat lain.
Sejujurnya, Mama Siwi juga tetap ingin ditemani Papa Sulis dalam proses persalinan, ingin Papa Sulis bisa memotret/memvideo anaknya yang masih bersimbah darah, saat dimandikan/dibersihkan pertama kali, saat diberi ASI pertama kali oleh Mama Siwi. Samalah dengan moment-moment yang pernah dialami Mbak Anin. Juga Mama Siwi ingin Papa Sulis yang membawa pulang ari-ari (placenta), lalu menguburkannya di depan rumah. Bukan orang lain!!! Apakah keinginan-keinginan itu adalah keinginan yang tidak realistis?!?! Juga Papa Sulis yang menemani Mama Siwi opname di RS, padahal awalnya Mama Siwi sudah membayangkan akan minta rawat gabung ibu dan bayi, jadi bisa mulai memberikan ASI eksklusif agar kejadian tidak berhasilnya proses laktasi di masa Anin tidak terulang lagi. Bukankah di banyak artikel yang pernah Mama Siwi baca di majalah atau internet, keberhasilan laktasi atau proses pemberian ASI eksklusif dan proses penyembuhan pasca persalinan sangat ditentukan oleh dukungan suami terhadap istrinya?!?! Rasanya akan lain kalau di RS nanti Mama Siwi ditemani oleh eyang-eyang. Biar gimana-gimana rasanya tidak tega dan ”ada sejuta rasa pekewuh” nyuruh-nyuruh atau minta tolong eyang-eyang yang sudah tua-tua dan tidak mobile lagi. Oya, ortu dan mertua Mama Siwi sudah tidak bisa dibilang muda lagi, beda sekali dengan mertua Tante Ari yang masih bisa lari ke sana, lari ke sini. Kok belum apa-apa, Mama Siwi sudah hopeless ya. Bingung pokoknya ...
Kamis sore, di rumah ada eyang kakung dan eyang putri Marno dari Klaten, juga Oom Bambang. Nengok Papa Sulis dan Anin yang sakit. Saat mereka ada di rumah, suhu badan Papa Sulis naik lagi jadi 38,7 derajat Celcius. Tidak henti-hentinya Mama Siwi mengompres dahi, pipi, dan leher Papa Sulis. Perasaan Mama Siwi campur aduk deh waktu itu. Mana Anin masih batuk sampai ”ngikil” gitu. Dalam hati Mama Siwi cuman bisa mendaraskan doa/lagu ini ...
Kadang kala kau tak mampu mengerti , kenyataan hidup yang telah kau alami.
Namun tetaplah tegak berdiri, percaya DIA punya rencana sendiri.
DIAlah Tuhan yang akan membuat segalanya kan indah pada waktunya.
Untuk segala sesuatu ada masanya, Tuhan sendiri yang akan menyelesaikannya.
Serahkanlah saja pada kehendakNYA, Tuhan kan buat indah pada waktunya.
Ternyata pasrah dan berserah kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan ya??? Percaya bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, justru pada saat segala sesuatu tampak suram dan tiada harapan sama sekali???
Mungkin Tuhan mendengar darasan doa Mama Siwi. Ajaib. Malam ini Anin sudah bisa tidur pukul 21.00 WIB dan tidurnya tenang betul, tanpa batuk-batuk seperti malam sebelumnya. Demikian juga Papa Sulis sudah mulai berkeringat dan suhu badan mulai dingin/normal. Setiap terbangun satu atau dua jam sekali, Mama Siwi meraba badan Papa Sulis, tidak ada tanda-tanda kenaikan suhu seperti malam sebelumnya. Tanda-tanda infeksi level (minimal) bisa dikendalikan oleh obat antibiotik dari dokter. Thanks God, semoga ini menjadi pertanda baik untuk kesehatan mereka berdua. Sejujurnya Mama Siwi membutuhkan mereka berdua untuk menghadapi pertarungan hidup mati Mama Siwi beberapa saat lagi, meski entah berapa hari lagi.
Kalau boleh jujur Mama Siwi lebih takut dalam menghadapi persalinan anak kedua ini daripada anak pertama. Dalam alam bawah sadar Mama Siwi ternyata Mama Siwi sangat trauma dengan proses persalinan pertama yang sampai memakan waktu cukup lama, karena Anin lahir dengan posisi kepala tengadah, jadi ”nyantol” di jalan keluar lahir, sampai-sampai Mama Siwi mengalami pendarahan hebat hingga 800 cc darah, padahal untuk persalinan normal maksimal 400 cc darah yang terbuang. Anin waktu itu sudah hampir ditarik pakai alat forsep yang mirip tang besar itu. Juga untuk rasa sakit yang luar biasa, karena Dokter Amino terkenal sebagai dokter kandungan yang anti terhadap obat pengurang rasa sakit atau obat bius. Memang dia tergolong dokter senior yang masih konservatif yang juga tidak mudah memutuskan operasi caesar, bahkan dalam keadaan yang sudah genting sekalipun. Seandainya pun persalinan besok akan pakai operasi caesar juga tidak mudah untuk Mama Siwi karena Mama Siwi punya riwayat gangguan jantung pada saat operasi usus buntu dilakukan persis 1,5 bulan sebelum Mama Siwi menikah. Jantung Mama Siwi termasuk tidak kuat dengan obat-obat anestesi/pembiusan lokal. Waktu itu, dalam keadaan setengah sadar, operasi usus buntu sempat dihentikan beberapa saat dan semua gunting/pisau diletakkan persis di atas perut karena jantung Mama Siwi megap-megap nggak karuan itu. Jadi sama saja, persalinan normal/spontan atau persalinan dengan operasi sama saja tidak nyaman buat Mama Siwi. Itulah mengapa Mama Siwi sangat membutuhkan dukungan dari Papa Sulis, suami tercinta. Eh, bukan berarti kalau tidak begini maka Mama Siwi tidak butuh Papa Sulis lhooo.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home