Detik-Detik Menegangkan Kelahiran Si Kecil
Akhirnya setelah menunggu kelahiran si adik kecil, tibalah saat yang sangat mendebarkan, tepatnya Senin 14 Mei 2007, 3 hari lebih lama dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) yang diprediksi oleh dokter. Semuanya berawal dari Mama Siwi yang makan kekenyangan pada hari Minggu 13 Mei 2007 malam. Alhasil, Mama Siwi berkali-kali ke ‘belakang’ dan baru berhasil Buang Air Besar (BAB) pada pukul 03.30 WIB alias Senin dini hari.Ternyata rasa mules tidak kunjung hilang juga, berarti ini adalah tanda-tanda persalinan. Sejak pukul 04.00WIB, rasa mules atau kontraksi terjadi berkali-kali, tapi anehnya Mama Siwi tidak kunjung mengeluarkan darah seperti yang terjadi pada waktu kelahiran Mbak Anin dulu. Saat itu Papa Sulis sudah menawari untuk berangkat ke RS segera, tapi Mama Siwi belum mau karena menurut perasaan Mama Siwi, kira-kira pukul 10.00 baru melahirkan. Lagian kelamaan di RS tidak nyaman, apalagi kalau saat bersamaan ada ibu-ibu lain yang juga akan melahirkan, rasanya jadi tambah stres.
Ternyata perkiraan itu meleset 180 derajat, karena tepat pukul 06.00WIB pada saat mandi pagi Mama Siwi sudah mengeluarkan darah banyak sekali,diikuti dengan keluarnya/pecahnya air ketuban di teras rumah pukul 06.40 WIB. Baru deh, Mama Siwi panik melihat air ketuban sudah keluar seperti itu, maka buru-buru Mama Siwi dan Papa Sulis berangkat ke RS Panti Rapih. Di jalan, sudah nggak bisa mikir apa-apa, selain hanya bisa mendaraskan doa Bapa Kami dan Salam Maria (habisnya sudah tidak bisa konsentrasi, saking sakitnya) mohon keselamatan buat Mama Siwi dan si kecil. Saat itu air ketuban sudah mengalir deras di jok mobil. Masih segar di ingatan Mama Siwi, ketika itu Papa Sulis menerobos palang kereta api di bawah jalan layang Lempuyangan yang sudah mulai menutup, ngeri deh kalau ingat peristiwa itu.
Sesampai RS Panti Rapih, Mama Siwi langsung dibawa petugas UGD ke kamar persalinan di Gedung Carolus Boromeus. Tak lama kemudian, Papa Sulis menyusul dengan membawa tas pakaian Mama Siwi, berikut handycamp. Berhubung berkas status belum ada, maka Papa Sulis diminta suster/perawat untuk mengurus berkas itu di pendaftaran poliklinik.
Ternyata Tuhan berkenan membuat proses persalinan sangat lancar. Ketika Papa Sulis pergi mengurus berkas status, ternyata suster melihat ‘pembukaan’ Mama Siwi sudah lengkap, malahan rambut bayi sudah kelihatan, berarti tidak mungkin lagi memanggil dokter Amino. Apa boleh buat, akhirnya persalinan dibantu oleh seorang bidan, namanya Bidan Siswanti. Orangnya sabar bener, jadi Mama Siwi tidak merasa cemas dan bisa mempercayai orang ini, sekalipun persalinan tidak dibantu atau diawasi seorang dokter.
Nama Tuhan memang patut dimuliakan, keajaiban terjadi, dalam 1 kali mengejan, si kecil pun lahir. Puji Tuhan, telah lahir seorang bayi laki-laki yang sehat dengan berat lahir 3,325 kg dan panjang 51cm. Thanks God !!! Memang sudah ditakdirkan juga oleh Yang Di Atas, bahwa bayi kecil ini lahir tanpa ditungguin siapa pun, tidak terkecuali papanya sendiri, memang ‘si anak pemberani’, beda sekali dengan Mbak Anin yang waktu itu ditungguin banyak orang, papanya dan eyang-eyangnya.
Rasanya masih sulit dipercaya, bayi kecil ini lahir tepat pukul 07.05 WIB, hanya 3 jam dari saat pertama kali Mama Siwi merasakan mules-mules alias kontraksi. Luar biasa cepat, padahal kalau ingat perjuangan melahirkan Mbak Anin dulu memakan waktu 12 jam lamanya mulai dari kontraksi sampai kelahirannya.
Demikian melihat si bayi mungil telah lahir, spontan Mama Siwi menelpon Papa Sulis yang masih ada di pendaftaran poliklinik, rasanya Mama Siwi sudah lupa dengan semua rasa sakit di perut dan di lubang persalinan. Papa Sulis bener-bener tidak percaya kalau si kecil sudah lahir dan yang penting SELAMAT, mengingat air ketubannya sudah pecah di rumah dan hampir saja si kecil lahir di dalam mobil. Menurut cerita Papa Sulis kemudian nih, demikian dapat telpon dari Mama Siwi, Papa Sulis langsung lari-lari balik ke ruang persalinan, sampai hampir nabrak suster-suster yang lagi jalan berombongan, tapi orang-orang tahu kok, kalau Papa Sulis lari-lari sambil kegirangan mendengar anak keduanya telah lahir, buktinya, suster-suster yang hampir ketabrak itu padha senyum-senyum melihat Papa Sulis, hehehee, kayak di film-film saja ya …
Sesampainya Papa Sulis di kamar persalinan, sibuklah Papa Sulis dengan handycamp dan kamera untuk mengabadikan ‘si jagoan kecil pemberani’ itu, sembari sibuk menelpon Eyang Yogya, Mbak Anin, dan Eyang Klaten, juga menulis sms ke orang-orang. Semua orang tidak percaya kalau proses persalinan akan secepat itu. Begitu juga Tante Ari yang menelpon tidak lama setelah Mama Siwi melahirkan. Oya, waktu Mbak Anin denger Mama Siwi sudah melahirkan, spontan dia teriak-teriak di rumah, ngasih tahu semua orang kalau adiknya sudah lahir. Moga-moga Mbak Anin bener-bener siap untuk mempunyai seorang adik.
Masih sulit dipercaya, bahwa pada saat persalinan berlangsung sebenarnya Mama Siwi belum sempat sarapan apapun, selain 1 gelas susu prenagen di rumah tadi. Untungnya proses persalinan lancar dan tanpa membutuhkan tenaga ekstra untuk mengeluarkan si kecil. Setelah proses persalinan selesai, lengkap dengan 6 jahitan dilakukan, pindah ke kamar rawat inap, baru deh Mama Siwi merasa kelaparan luar biasa, hehehe. Jadilah Mama Siwi dan Papa Sulis sarapan pagi bersama di kamar rawat inap Carolus 301, terpaksa pakai kamar klas VIP, berhubung klas I dan klas Utama penuh. Nggak apa-apa deh, hitung-hitung sekalian istirahat, kayak di kamar hotel saja rasanya, saking mahalnya Rp 500.000,00 per hari.
Oya, mau tahu, wajah si adik kecil mirip siapa pada saat lahir. Mirip sekali dengan Mbak Anin, mbaknya. Hehehe, namanya juga adiknya, habis mau mirip siapa ya …

1 Comments:
suka baca ceritanya kel Siwi ini :).
semoga bisa lairan normal dan cepet spt mama Siwi.
Btw selama hamil banyak aktivitas ya jadi lairan bisa selancar itu ?
Puji Tuhan yaa
Post a Comment
<< Home