Monday, June 25, 2007

Nikahan Oom Bambang dan Tante Fifin (part I)

Akhirnya …. Ku Menemukanmu …
Saat hati ini mulai merapuh. Akhirnya ku menemukanmu.
Saat raga ini ingin berlabuh. Kuberharap engkaulah.
Jawaban atas risau hatiku. Dan biarkan diriku mencintaimu. Hingga ujung usiaku.
Jika nanti kusanding dirimu. Miliki aku dengan segala kelemahanku.
Dan bila nanti engkau di sampingku. Jangan pernah letih tuk mencintaiku.

Begitu kira-kira kata hati Oom Bambang, mirip seperti penyanyi Naff yang nyanyiin lagu itu ... hihihi ... sok romantis ya …
Memang hari Minggu, 24 Juni 2007 ini pernikahan Oom Bambang. Oya, Oom Bambang ini adik kandung Papa Sulis. Papa Sulis itu 3 bersaudara cowok semua. Papa Sulis masih punya 1 kakak kandung, namanya Pakde Sus atau Pakde Gendut (begitu Anin menyapanya). Setelah berganti-ganti pacar dan berkali-kali patah hati (berapa kali ya, Oom???), akhirnya berakhirlah pengembaraan cinta Oom Bambang di pelabuhan hatinya yang terakhir, yaitu Tante Fifin. Kebetulan Tante Fifin ini orang Klaten juga. Hehehe, akhirnya Eyang Klaten punya juga menantu orang Klaten setelah 2 menantu yang lain orang Yogya, alamat di usia senjanya nanti bakalan ada menantu yang menemani mereka. Siap-siap aja loo, Tante Fifin, untuk jadi ”menantu kinasih”.
Hari ini acara pernikahan berlangsung di pihak ceweknya. Acara penerimaan sakramen pernikahan di Kapel Panti Semedi, Sangkalputung Klaten, dilanjutkan acara resepsi di Gedung Serbaguna Eko Kapti, Klaten.

Berhubung Mama Siwi nggak bisa bawa-bawa Dik Adid yang masih kelewat kecil, juga sebenarnya Mama Siwi takut dengan ”sawan” (boleh percaya boleh tidak deh, banyak orang bilang sawan manten lebih merusak daripada sawan orang mati kalo buat bayi/anak kecil), maka Mama Siwi tidak menginap di Klaten, tetapi pagi-pagi sudah dandan salon di Yogya, lalu berangkat ke Klaten dengan Papa Sulis dan Mbak Anin.
Oya, sehari sebelum pernikahan, keluarga besar Papa Sulis mengantar ’srah-srahan’, ini adalah barang-barang dari pihak calon pengantin pria ke pihak calon pengantin wanita. Ada seperangkat pakaian wanita lengkap, ada perhiasan, ada kosmetik, ada uang, dan ada juga makanan. Pokoknya waktu Mama Siwi hitung nih, semuanya ada 23 baki, wow, banyak juga ya ...
Baru keesokan harinya, berlangsung acara pernikahan. Lumayan sport jantung juga nih, berhubung lebih dari pukul 09.30 kok Romo Hadiyanto, Pr. yang akan menikahkan belum kelihatan batang hidungnya. Duhh, jadi ikutan stres nih. Kasihan para tamu nanti kalo molor, khan acara di gedung pukul 11.00 WIB. Syukurlah, romo tidak terlambat lama-lama, jadi keluarga besar tidak bertambah lama deg-degannya.
Eh, waktu Oom Bambang dan Tante Fifin ngejalanin sungkeman ke Eyang Klaten, Mama Siwi ikutan nangis looo. Entah kenapa, rasanya kok lega juga, melihat akhirnya Oom Bambang jadi menikah. Selesai sudah tugas Eyang Klaten untuk ”ngentaske” ketiga putranya. Lega pasti ya ... Mama Siwi jadi inget, selama ini Oom Bambang lumayan sering curhat-curhat ke Mama Siwi, terutama tentang cewek-cewek yang pernah dekat dengannya. Maklumlah, Oom Bambang khan kerja di Yogya, sedangkan Mama Siwi lumayan enak kalo jadi temen curhat ... ceile ... sok deh ... Tapi bener kok, emang kenyataannya begitu. Bahkan Papa Sulis pun mengakuinya, pernah bilang ke Eyang Klaten Putri, kalo Oom Bambang emang deket sama Mama Siwi daripada dengan Papa Sulis ... Habisnya, Papa Sulis galak gitu sih sama adiknya, ya Oom Bambang itu ... Tapi meski Papa Sulis kelihatan luarnya galak, tapi hatinya baik kok ... Ya khan, Pa ???
Setelah acara di gereja selesai, dilanjutkan acara di gedung. Sesampai gedung, gedung sudah penuh terisi tamu undangan. Oya, berbeda dengan di Yogya, tradisi di Klaten lebih banyak mengikuti tradisi Solo. Acara resepsi pernikahan biasanya dilakukan dengan resepsi duduk dengan model piring terbang, alias piring digeser atau dibagikan kepada para tamu, dan semua tamunya duduk. Ada sebutan gaya USDEK artinya Unjukan (minuman), Sop, Dhahar (makanan besar), Es, dan akhrnya Kondur (pulang). Asyik juga looo, menghadiri resepsi model begini, lain dengan Yogya yang lebih banyak model standing party. Untunglah semua berjalan lancar, jadi dalam waktu kurang dari 2 jam, acara resepsi berakhir.

Eh, sampai lupa nih ... Oom Bambang dan Tante Fifin, Keluarga Sulistyanto mengucapkan selamat menempuh hidup baru ya, yang bener-bener "the real world", hidup yang penuh perjuangan sekaligus penuh pengorbanan, tetapi juga hidup yang penuh cinta.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Daisypath Ticker