Friday, July 20, 2007

Beginilah Rasanya Menjadi ”The Real Mom”

Lima hari sudah Mama Siwi punya aktivitas baru, mengantar, menunggui, dan menjemput Anin sekolah. Untuk minggu pertama ini sekolah playgroup Anin hanya 45 menit, dari pukul 07.30 sampai 08.15 WIB. Jadi tanggung sekali kalau waktu 45 menit itu dipakai pergi ke tempat lain, alhasil lebih baik menunggu saja di depan sekolah. Tapi bisa dipastikan deh, boring juga rasanya. Mana tempat menunggunya penuh sesak, maklumlah semua anak playgroup dan TK masih ditunggui orang tuanya.
Pagi-pagi bangun pukul 05.00 untuk menyiapkan segala keperluan Anin. Berhubung Mama Siwi belum berhasil mendapatkan 1 pengasuh lagi untuk anak-anak, selain Mbak Atun yang selama ini megang Adid, maka untuk segala urusan anak-anak terutama pagi hari, Mama Siwi harus ikutan membantu kerjaan Mbak Atun. Jadi Mama Siwi memandikan Adid, sementara Anin dimandikan dilanjutkan disuapi sarapan pagi oleh Mbak Atun. Sedangkan Mama Siwi mandi dan langsung ‘memerah ASI’ dengan Medela, setelah itu ikutan sarapan juga. Semua selesai, tepat pukul 7 kurang 5 menit, lalu Mama Siwi mendadani Anin dengan seragam sekolahnya. Pukul 07.05 baru deh Mama Siwi berangkat mengantar Anin ke sekolah dengan pakai sepeda motor yang lebih cepat, lebih praktis, dan lebih murah tentunya. Apalagi udara pagi masih bersih, segar sekali rasanya, pelan-pelan ke sekolah, ternyata cuman 10-15 menit lamanya.
Selesai segala urusan Anin, pukul 09.30 WIB Mama Siwi berangkat ke kampus UAJY. Mengerjakan segala urusan kantor (rapat, bimbingan mahasiswa, dsb), lalu pukul 13.00 WIB mengajar sampai 15.30. Pulang deh ke rumah, sampai di rumah sudah menunggu anak-anak mungil yang tidak pernah jera ’ngerjain’ mamanya. Tidak lupa juga tingkah polah Anin yang bisa dipastikan akan menanyakan oleh-oleh makanan sisa rapat yang sering dibawa pulang mamanya. Hehehehe ... sama juga dengan masa kecil Mama Siwi.
Sepanjang sore hingga malam hari, jika Mama Siwi bisa istirahat pasti berusaha untuk istirahat, karena biasanya malam hingga dini hari Adid masih suka begadang. Bisa dipastikan selepas tengah malam sampai pagi hari pukul 04.30 Adid lebih rewel daripada pagi atau siang hari. Kalo ternyata masih ada kerjaan kantor yang harus diselesaikan ya Mama Siwi langsung kerjakan, itupun pasti digangguin Anin. Maklum deh, biasanya kalo mamanya tidak ngapa-ngapain pasti didiemin, demikian lihat mamanya ngerjain kerjaan kantor biasanya langsung direcokin. Duuuuhh, nak, bagaimana mamamu bisa cari uang buat beli susu dong, kalo digangguin terus begini ?!
Begitulah kehidupan Mama Siwi 5 hari ini. Menyenangkan pasti, tapi juga sangat melelahkan yang jelas. Terus terang yang paling berat adalah melek malam sampai dini hari kalau Adid rewel. Addduhhh, mana kekuatan badan Mama Siwi juga terbatas. Penginnya tidur malam, tapi Adid rewel dan minta gendongan melulu. Jika tidak digendong alias diletakkan tempat tidur pasti akan nangis. Mana kadangkala nggak ada yang nemani lagi. Papa Sulis ada di Semarang. Mau minta tolong Mbak Atun nggak tega juga rasanya, karena Mbak Atun sudah kerja serabutan seharian ini dan mengasuh anak-anak kalau Mama Siwi keluar rumah. Terpaksanya minta tolong Eyang Mardjo Kakung untuk ganti nggendong Adid. Habis mau gimana lagi. Kadangkala kalau situasi begini, terbersit pikiran nakal “Kapan sih Papa Sulis bisa masuk atau pindah ke Yogya, kumpul dengan keluarganya”. Kapan ya, Pa … kali-kali kalau nanti pensiun ya. Itu mah sama juga boong, khan anak-anak pasti sudah besar. Mama Siwi nggak bisa ngebayangin deh, kerepotan beberapa tahun lagi seperti apa, kalau Anin sudah kenal kursus atau les, juga kalau sore hari harus mengajari Anin mengerjakan pekerjaan rumah (PR)-nya. Tapi ya mau gimana lagi, sudah diniati kok, ya dinikmati saja. Memang itulah kerepotan seorang ibu. Celakanya kalau si ibu itu juga kerja di sektor formal atau kerja kantoran kayak Mama Siwi. Anyway, Mama Siwi masih bersyukur kok, kerja sebagai dosen dengan waktu kerja yang lebih fleksibel, daripada Tante Ari yang kerja di perusahaan full time dari pagi sampai sore hari itu. Pasti beda ya dinamika hidupnya dengan Mama Siwi.

WANITA
Ketika Tuhan menciptakan wanita, Dia lembur pada hari keenam.
Malaikat datang dan bertanya,”Mengapa begitu lama, Tuhan?”
Tuhan menjawab:
“Sudahkan engkau lihat semua detail yang Ku-buat untuk menciptakan mereka?"
“Dua tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari dua ratus bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak pada saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini”
Malaikat itu takjub.
“Hanya dengan dua tangan?....impossible! Dan itu model standard?!”
“Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya“.
“Oh.. Tidak, Aku akan menyelesaikan ciptaan ini,
karena ini adalah ciptaan favorit-Ku”.
“Oya… dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri,
dan bisa bekerja delapan belas jam sehari”.
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita-ciptaan Tuhan itu.
“Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?” “Yah.. Aku membuatnya lembut. Tapi engkau belum bisa membayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa”.
“Dia bisa berpikir?”, tanya malaikat.
Tuhan menjawab:
“Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya....
“Tuhan, Engkau buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh!
Seolah terlalu banyak beban baginya”.
“Itu bukan lelah atau rapuh....itu air mata”, koreksi Tuhan.
“Untuk apa?”, tanya malaikat
Tuhan melanjutkan:
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan”.
“Luar biasa, Engkau jenius Tuhan” kata malaikat.
“Engkau memikirkan segala sesuatunya,
wanita ciptaan-Mu ini akan sungguh menakjubkan!"
Ya pasti…!
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki.
Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu,
bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang-orang yang dicintainya.
Mampu berdiri melawan ketidakadilan.
Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya.
Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.
Cintanya tanpa syarat.
Dia menangis saat melihat anaknya menjadi pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa .
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian.
Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA ...
Interprated by :
Lins_View inspires Y’all from any sources
Deeply Humble www.lintong.s5.com

0 Comments:

Post a Comment

<< Home

Daisypath Ticker